[POV 1 - Nada]
Bau karat yang tajam, debu beton yang mengendap, dan aroma oli mesin yang tengik menjadi hal pertama yang menyapa indra penciumanku. Kesadaranku kembali secara perlahan, menembus kabut tebal sisa cairan bius yang masih membuat kepalaku berdenyut hebat.
Aku mencoba menggerakkan tanganku, tetapi sensasi kasar dari tali tambang nilon yang mengikat erat kedua pergelangan tanganku di belakang punggung kursi besi langsung menghentikanku. Kakiku juga terikat pada kaki kursi.
Aku terperangkap!
Dengan susah payah, aku membuka kelopak mataku. Ruangan ini sangat luas, minim cahaya, dan bergema. Tumpukan kardus, peti kemas kayu, dan drum-drum besi berjejer rapi di sekelilingku. Suara tetesan air dari atap seng yang bocor terdengar ritmis, menggema di dinding-dinding beton yang lembap. Ini adalah gudang aset. Tempat Panji menyembunyikan sisa-sisa logistik dan mungkin uang tunai dari proyek-proyek kotornya.
Di depanku, berjarak sekitar dua meter, Panji duduk di atas sebuah kursi kayu tua. Pria itu tidak sedang merokok, tidak sedang memegang senjata, dan tidak sedang berteriak. Ia hanya duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di depan dada, menatapku dengan kesabaran yang sangat tidak wajar. Matanya gelap, menyerap sisa-sisa cahaya di ruangan ini.
Di sudut meja besi karatan yang memisahkan kami, ponsel murahan milikku yang ia sita tergeletak begitu saja. Layarnya menyala sesaat karena notifikasi dari operator seluler. Kenapa dia menyalakannya? Apa menunggu kawananku menelepon?
Mataku langsung mengunci deretan angka digital di sudut kanan atas layar kecil itu.
Pukul 02.00.
Lima jam lagi.
Jantungku yang tadinya berdetak lemah kini kembali memompa darah dengan agresif. Lima jam sebelum pukul tujuh pagi. Lima jam sebelum surel bom waktu berisi seluruh bukti mutasi, lokasi brankas, dan nama Pak Adiwarna terkirim secara otomatis ke server Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Panji sama sekali tidak tahu tentang surel tersebut. Dia pikir dia telah memenangkan permainan ini dengan menangkapku dan menyita alat komunikasiku. Selama dia tidak tahu, dia tidak akan panik mencari pakar IT untuk meretas dan membatalkan pengiriman surel itu.
Sialnya, ponselku tidak bisa terlacak. Saat berada di rumah Panji, aku aman. Namun, sekarang? Aku berharap seseorang bisa melacak posisinya.
Strategiku sekarang hanya satu yakni mengulur waktu. Biarkan jarum jam bergerak. Jangan memancing amarahnya hingga dia memutuskan untuk membunuhku sebelum fajar menyingsing.
"Sudah bangun, Sayang?" suara Panji memecah keheningan yang lembing. Nada bicaranya halus, nyaris terdengar seperti seorang suami yang sedang membangunkan istrinya di ranjang rumah mereka yang hangat.
Aku terbatuk pelan, merasakan tenggorokanku yang kering kerontang. Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku menutupi sebagian wajahku, memainkan peran sebagai tawanan yang telah patah semangat. Namun, di balik kepasrahan fisik ini, otakku berteriak panik memikirkan masalah lain. Pesan terakhir yang sempat kukirimkan ke Rendra pagi tadi hanyalah jeritan minta tolong.
Apakah Rendra dan Rama bisa menyimpulkan ke mana Panji membawaku? Semalam, lewat sambungan telepon, aku memang sudah memberikan petunjuk krusial, Gudang kawasan industri timur. Truk PS. Namun, kawasan industri timur itu luasnya luar biasa. Ada ratusan gudang di sana. Apakah petunjuk itu cukup bagi mereka untuk menemukanku tepat waktu?
Untuk pertama kalinya sejak aku terlempar ke dalam tubuh istri malang ini, rasa kendali itu lepas dari tanganku. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu dan berdoa. Dan entah mengapa, ketidakberdayaan ini terasa jauh lebih menakutkan dibandingkan saat aku harus berhadapan langsung dengan peluru atau menyusup ke sarang musuh.
[POV 3 - Rendra]
Di sebuah ruang kendali operasi sementara yang didirikan di markas kepolisian, Rendra mondar-mandir dengan napas memburu. Tangannya menggenggam ponselnya erat-erat, menatap pesan terakhir dari Kiara yang masuk beberapa jam lalu.
Setelah pesan tersebut, nomor Kiara mati total. Tidak ada balasan.
Rama berdiri di depan layar monitor besar, wajahnya tak kalah tegang. "Tim pelacak siber tidak bisa menemukan titik koordinat GPS dari nomor itu, Ren. Ponselnya sepertinya sudah dimatikan atau berada di area blank spot. Atau ponsel itu dilindungi dari pelacak?"
"Dia menyebutkan gudang timur semalam, Ram!" Rendra menggebrak meja, rasa frustrasi menguasai dirinya. Rasa bersalah karena sempat meragukan Kiara akibat fitnah Sonya kini membebaninya. "Panji pasti membawanya ke sana. Dia memindahkan operasinya ke kawasan itu."
"Kawasan industri timur punya lebih dari tiga ratus kompleks pergudangan, Rendra. Kalau kita sisir satu-satu, Nyonya Kiara sudah tinggal nama saat kita menemukannya," bantah Rama, rahangnya mengeras.
Rendra memejamkan mata, memeras otaknya. Wartawan investigasi di dalam dirinya menolak untuk menyerah pada jalan buntu.