Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #25

Bab 24 - Karma dan Jalan Pulang (Ending)

[POV 1 - Nada]

Panas itu tidak sekadar membakar kulit, melainkan seolah ingin memanggang isi kepalaku. Dinding api berwarna jingga kemerahan melingkari kami bagaikan arena gladiator dari neraka. Suara gemuruh api yang melahap tumpukan kardus dan cairan kimia beradu dengan deru memekakkan telinga dari mesin pemotong baja di tangan Panji.

Pria itu sudah kehilangan kewarasannya. Wajahnya cemong oleh jelaga, matanya melotot liar, memancarkan kegilaan murni yang sudah tak terikat lagi pada logika atau harta benda. Kerajaannya telah runtuh, surel bom waktuku telah menghancurkan segalanya di dunia luar, dan kini, satu-satunya tujuan hidup yang tersisa di dalam otaknya yang rusak hanyalah menyeretku mati bersamanya.

"KITA MATI BERSAMA!" raungnya lagi.

Bilah baja yang berputar dengan kecepatan ribuan RPM itu terayun ke arah dadaku. Aku menjerit, memejamkan mata rapat-rapat, meronta sekuat tenaga hingga pergelangan tanganku yang terikat tambang nilon berdarah.

DOR! DOR!

Dua letusan peluru membelah tirai api. Sebuah hantaman keras menabrak tubuh Panji dari sisi kiri. Pria itu terpental, mesin pemotong bajanya terlepas dan terlempar ke sudut ruangan, memercikkan lebih banyak api saat bilahnya menghantam lantai beton.

Aku membuka mata. Melalui asap yang pekat, aku melihat siluet tegap Rama. Polisi itu menerjang masuk bagai banteng yang terluka, seragamnya sebagian hangus, wajahnya dipenuhi keringat dan jelaga. Dia tidak datang sendirian. Dua anggota tim lainnya menutupi pergerakannya, menembakkan senapan mereka ke arah langit-langit untuk meruntuhkan lampu gantung agar tidak menimpa kami.

"Tahan dia!" teriak Rama kepada anggotanya, sementara ia sendiri melompat ke arahku. Dengan sebilah pisau taktis militer, Rama memotong tambang nilon yang mengikat tangan dan kakiku dalam tiga kali sayatan cepat.

Aku terbatuk hebat, paru-paruku nyaris menolak oksigen yang sudah bercampur racun asap. Rama menarik lenganku, memapah tubuhku yang nyaris tak bertulang. "Ayo, Bu! Kita harus keluar sekarang, atapnya mau runtuh!"

Di seberang kami, Panji yang sempat tersungkur kini berusaha bangkit. Salah satu anggota Rama mengacungkan senjata ke arahnya, memerintahkannya untuk menyerah. Namun, di tengah kobaran api yang mulai menjilat tiang-tiang penyangga atap, mata Panji tidak menatap laras senapan polisi itu. Matanya terpaku pada sebuah brankas portabel miliknya yang teronggok di dekat tumpukan jerigen kimia. Brankas itu mulai dijilat api. Di dalamnya masih ada sisa uang tunai miliaran rupiah, sisa keangkuhannya.

Panji tidak berlari menuju pintu keluar. Insting keserakahannya mengalahkan insting bertahan hidupnya. Ia justru menerjang ke dalam kobaran api yang lebih besar, mencoba meraih pegangan brankas tersebut.

"Biarkan saja! Mundur!" teriak Rama pada anggotanya, menarik tubuhku menjauh dari pusat kobaran.

Tepat saat tangan Panji menyentuh logam brankas itu, suara derak logam yang memekakkan telinga terdengar dari atas. Salah satu balok baja penyangga atap utama yang sudah meleleh karena suhu ekstrem akhirnya patah.

Balok baja yang menyala membara itu jatuh meluncur dengan kecepatan mengerikan.

Kejadian itu terasa seperti diputar dalam gerak lambat. Balok itu menghantam punggung Panji tepat di bagian tulang belakangnya. Terdengar bunyi retakan tulang yang keras, jauh lebih keras dari derak api. Panji menjerit. Jeritan panjang, melengking, dan menyayat hati, murni dari penderitaan fisik yang tak terbayangkan.

Tubuhnya tertindih balok baja seberat ratusan kilogram. Aku melihat api mulai membakar jas mahalnya, merambat ke kulitnya. Namun, hukuman Panji tidak berakhir dengan kematian instan. Matanya masih terbuka lebar, menatapku dari kejauhan dengan penuh penderitaan, tetapi tubuhnya dari leher ke bawah tak bisa digerakkan sama sekali. Tulang belakangnya pasti hancur total.

Dan jika aku masih duduk di kursi itu, aku juga pasti menerima nasib yang sama.

Aku terkesiap saat Rama terus menyeretku keluar. Pemandangan itu mengunci otakku. Azab telah berbalik dengan eksekusi yang sempurna. Kelumpuhan, kulit yang hangus, dan penderitaan di sisa hidup yang tak berdaya, itu adalah azab mengerikan yang seharusnya menimpa Kiara di akhir sinetron ini. Sekarang, pria sosiopat itu sendirilah yang menelannya.

Lihat selengkapnya