Hanya dari sebuah foto seorang gadis kecil berkaos hijau sedang mendayung sampan terlihat dari belakang, tanpa sengaja terabadikan dalam kameraku, bermetafora menjadi sebuah naskah cerita panjang menguak tabir tentang kisah pilu yang dialami gadis kecil itu.
Siapkan camilan dan coffee latte, duduk manis di sofa, lalu buka setiap lembaran kisah ini sampai tamat. Setelah itu, kamu bisa merasakan keteguhan jiwa akan merasuk ke dalam tubuhmu, seperti halnya perjuangan dan ketabahan sosok gadis kecil yang terpampang di sampul depan.
Ini adalah kisah petualanganku saat meliput suasana banjir di sebuah perkampungan di Muara Jangga, Batin XXIV, Jambi, Sumatra. Kebetulan, aku membawa kamera DSLR kelas menengah yang belum lama dibeli saat cuti dua bulan lalu, lengkap dengan lensa zoom 28-70 mm dengan bukaan konstan F 2.8 yang akan menghasilkan foto dengan latar belakang blur yang memukau.
Aku bukan seorang wartawan, bukan juga seorang fotografer profesional, baru sekelas amatiran. Mendalami dunia fotografi memang sudah menjadi impianku sejak lama, dan baru sekarang kesampaian.
Saat itu, aku mewakili perusahaan tempatku bekerja untuk ikut bersama rombongan pejabat daerah dan tim Basarnas. Kami hendak menyalurkan bantuan beras dan mi instan kepada kelompok masyarakat yang terdampak banjir. Perusahaan tempatku bekerja juga ikut berpartisipasi memberikan bantuan pangan dan obat-obatan.
Lokasi banjir tersebut tidak jauh dari mes tempatku bekerja. Di sana, aku bekerja di sebuah perusahaan tambang batu bara.
Awalnya, aku tidak menyangka akan melihat pemandangan banjir yang begitu dramatis di perkampungan tersebut. Sungguh sebuah momen keberuntungan luar biasa yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Saat rombongan speedboat menyeberangi sungai Batanghari yang tengah meluap, kemudian memasuki pintu gerbang perkampungan di balik tepi sungai, terlihat jajaran rumah panggung dan semi permanen padat penduduk tergenang hingga setengah bangunan, bahkan ada yang hampir mencapai atap.
Begitu memasuki perkampungan, kami disambut suasana hiruk-pikuk. Riuh rendah penghuni kampung tua, muda, hingga anak-anak tumpah ruah di depan rumah masing-masing. Sampan tradisional berbagai ukuran terlihat hilir-mudik di sepanjang jalan kampung yang telah berubah menjadi sungai.
“Ya Tuhan!” Berkali-kali aku mendesah takjub. Ini baru pertama kalinya aku memiliki kamera sekelas DSLR yang sudah lama diidamkan langsung mendapatkan titik pandang (spot) pemandangan langka yang membuatku merasa sangat beruntung.
Berada di dalam speedboat yang berjalan perlahan menyibak arus sungai dan kerumunan warga, aku berkali-kali membidikkan kamera. Aku mengabadikan momen-momen dramatis suasana banjir di perkampungan tersebut. Jerit tangis, gelak tawa, wajah tegang, dan kegelisahan, semua terekam ke dalam jendela rana kamera.
Deretan rumah panggung dan semi permanen berdiri memanjang di kiri kanan semua tergenang air sampai melewati ujung batas perkampungan sepanjang hampir satu kilometer. Speedboat yang aku naiki melaju di tengah jalan perkampungan menimbulkan riak gelombang air menyebar ke samping kiri dan kanan.