Dibalik Jendela Rana

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #2

Bab. 2


Pada hari ketiga pasca-kejadian banjir di Kampung Muara Jangga, aku memutuskan kembali ke lokasi banjir mencari sosok gadis dalam foto itu. Dengan menyewa sebuah sampan dari penduduk setempat, aku kembali menyusuri kampung tersebut dengan membawa foto yang sudah terbingkai dengan rapi, dan tidak ketinggalan perangkat kamera dengan baterai terisi penuh berikut cadangannya masuk bersama di dalam tas ransel.

Banjir belum surut juga. Menurut Abang sampan banjir seperti ini biasanya akan berlangsung sampai seminggu dua minggu. Seandainya hujan terus-menerus, bisa sampai sebulan surutnya.

“Abang tahu gadis di foto ini? Seandainya Abang tahu, antarkan saya ke rumahnya.”

Hanya dengan melihat kaos hijau yang dikenakan gadis dalam bingkai foto dan sampan yang dibawanya, Abang itu tahu siapa gadis tersebut. Rupanya Abang itu tinggal berseberangan kampung dengan keluarga gadis itu.

“Berapa nomor Hape Abang? Nanti saya hubungi lagi kalau urusan saya sudah selesai.”

Gadis itu tinggal di rumah panggung sederhana bersama ibunya. Lebih dari setengah bagian tiang balok yang menunjang rumahnya terendam banjir. Aku disambut dengan ramah oleh ibunya, meski pada awalnya merasa curiga dengan kedatanganku.

“Ada keperluan apa Sanak datang ke tempat Ibu?”

“Kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan anak Ibu sekaligus memberikan foto ini. Benarkah dalam foto ini anak Ibu?”

Ibu yang sudah terlihat tua dan rapuh itu memandang foto dalam bingkai. Selintas wajah takjub tergambar di raut wajahnya.

“Iya, ini anak Ibu… dari mana Sanak mendapatkan foto ini?”

“Maaf Ibu, saya telah lancang. Saya sendiri yang mengabadikan foto ini. Boleh saya bertemu dengan anak Ibu?”

Seketika itu wajah Ibu tertunduk layu, membuat aku serba salah dan kikuk. Adakah yang salah pada diriku?

“Sekali lagi saya mohon maaf seandainya Ibu tidak berkenan dengan foto ini.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Anak gadis Ibu sedang tidak berada di rumah.”

Seketika wajahku berkerut kecewa tadinya aku berharap bisa bertemu muka langsung dengan sosok gadis kecil yang terus terbayang dalam pelupuk mata.

“Seandainya saya boleh tahu, sedang berada di mana anak Ibu sekarang?”

“Ibu juga tidak tahu ke mana anak Ibu itu pergi, Nak. Yang pasti, dia sedang mencari adiknya sepanjang hari ini.”

Aku tersekat mendengarnya, tapi masih ragu dengan jawabannya.

“Maksud Ibu …. Apa yang terjadi dengan adiknya?” sedikit meninggi suaraku, menggenapi kecurigaanku pada foto yang saat ini tergenggam di pangkuannya.

Menetes air mata Ibu itu seketika tumpah di permukaan kaca bingkai foto anaknya. Mengusapnya dengan jemari yang tampak berkeriput semakin membuat aku serba salah. Kedatanganku telah mengacaukan suasana.

“Adiknya hilang terbawa arus sungai tengah malam pada saat banjir datang dua hari yang lalu.”

Lihat selengkapnya