Terpaksa aku harus merubah rencana cuti yang sudah aku buat seminggu yang lalu, kali ini aku tidak pulang ke rumah di Jakarta, tidak mengikuti event lomba foto kedirgantaraan dalam rangka HUT ABRI yang sudah terdaftar namaku.
Padahal ini acara yang paling aku nantikan dapat memotret berbagai jenis pesawat malah aku memutuskan akan menghabiskan masa cuti selama dua minggu (empat belas hari) di perkampungan Muara Jangga menemani gadis kecil dalam usaha mencari Adiknya yang hilang.
Aku sendiri tidak tahu sampai berapa lama aku dapat bertahan masuk dalam pusaran pergulatan batin pada sosok anak gadis kecil ini. Bertumpu pada sebuah keyakinan Adiknya akan kembali dalam pangkuannya lagi.
Aku hanya punya waktu selama empat belas hari untuk sebuah misi yang aku sendiri tidak tahu akhir dari petualanganku nanti.
Keesokan paginya aku benar datang menepati janji. Abang sampan itu masih setia menemaniku. Desti sudah menunggu sejak tadi di atas sampan masih juga mengenakan kaos berwarna hijau bercelana pendek, entah dia punya kaos hijau lebih dari satu atau itu-itu saja yang dipakainya sejak pertama kali aku temui tiga hari yang lalu, berkemungkinan juga itu warna kesukaannya. Tapi aku juga menyukainya … kaos hijau selalu dikenakannya seolah menjadi identitas jati dirinya
Sebenarnya aku ingin sekali menggantikannya mengayuh sampan tapi jujur aku tidak bisa melakukannya. Sekalipun belum pernah mencoba mendayung sampan … bisa-bisa malah terbalik sampannya nanti. Naik diatas sampan saja aku terasa gamang karena tidak terbiasa.
Tidak seperti warga di kampung ini semua bisa melakukannya mendayung sampan dengan gesit dan lincah seperti halnya, Desti baru berusia dua belas tahun sudah sangat mahir mengayuh sampan.
“Hati-hati, Nak jangan sampai malam pulangnya,” Ibunya mewanti-wanti sambil membawakan makanan dalam rantang.
Aku berpamitan kepada Ibunya berjanji akan membawa pulang Desti sebelum matahari terbenam.
Penemuan boneka beruang kecil mainan Adiknya rupanya sudah menyebar ke semua warga kampung pagi ini mereka berbondong-bondong menuju kesana tempat kemarin aku selami ada juga petugas dari Basarnas yang ikut serta.
“Coba lihat banyak sekali warga yang peduli dengan Desti mereka dengan sukarela membantu mencari Adikmu.”
“Iya, Kak semoga saja mereka menemukan Adik.”
Keramaian ini tidak aku sia-siakan kamera yang aku bawa mulai kumainkan mengarahkan lensa kamera seperti yang aku mau, mencari sesuatu yang berbeda nantinya akan menambah koleksi album fotoku. Siapa tahu hasil karya fotoku nanti suatu saat bisa dipamerkan atau diikutsertakan dalam ajang lomba foto.
Tapi fokus utamaku menemani Desti akan mengikutinya kemana dia mau, sambil menajamkan mata dan telinga berkemungkinan melihat mendengar sesuatu yang dicari.
Desti memilih menjauh dari keramaian mengarahkan sampannya ke suatu tempat yang tadi malam diimpikannya.
“Memang Desti semalam mimpi apa,” tanyaku penasaran.
“Desti mimpi Adik tersangkut di batang pohon diujung sana, Kak.”
Mengutarakannya dengan penuh keyakinan sorot matanya yang tajam seakan menembus batang pohon yang dituju.
“Kita ikuti saja apa maunya anak itu, Bang semoga saja mimpinya benar.”