Terkadang, seseorang datang dalam hidupmu bukan untuk tinggal, tapi hanya untuk membuka pintu bagi yang lain. Begitu pula dengannya seseorang yang tak perlu kusebut namanya. Perempuan yang awalnya hanyalah nama di kolom komentar media sosial.
Saat itu, aku masih mahasiswa aktif. Kesibukanku tak main-main, sebagai anggota Senat dan Ketua di berbagai organisasi penting di Kampus tentu di mata banyak orang, aku cukup dikenal. Terlalu banyak wajah yang datang dan pergi, terlalu sering aku mendapat perhatian. Tapi entah mengapa, dia yang diam-diam menyukai hampir semua unggahanku berhasil menyelinap masuk tanpa permisi dalam hidupku.
Mungkin karena waktu itu aku sedang kosong. Baru lulus, belum punya arah, hidup terasa menggantung di antara titik akhir dan awal yang belum jelas.
Sampai sore itu ditengah kegabutanku, Aku iseng mengirim pesan pada media sosialnya dan tak sampai dua menit kemudian, dia membalas. Begitu cepat, seolah memang sudah menunggu. Dari situlah semuanya mengalir.
Kami sama-sama baru lulus kuliah. Sama-sama sedang menata masa depan. Tak lama dari perkenalan itu aku mendapat pekerjaan di salah satu lembaga pemerintahan, sementara dia harus merantau ke luar kota demi mengejar karier. LDR? Ya. Tapi saat itu aku percaya, jika niatnya sama, jarak tak akan jadi masalah.
Nyatanya, aku terlalu polos menaruh harap. Sedangkan dia yang mungkin hanya sosok yang butuh teman bicara dan membuka ruang untuk seseorang yang lebih layak hadir.
Hubungan kami berjalan seperti kebanyakan hubungan yang berusaha bertahan dalam jarak. Awalnya manis. Video call setiap malam, saling bertukar kabar, mengirim foto aktivitas. Namun, seiring waktu, semuanya mulai memudar. Aku sibuk bekerja siang malam, dan dia pun mulai jarang memberi kabar. Aku masih bertahan, masih berusaha percaya.
Hingga akhirnya kabar itu datang. Bukan dari dia. Bukan juga dari orang lain, tapi dari kenyataan yang terlalu terang untuk bisa disangkal, itu tepat di depan mataku saat itu.
Dia selingkuh dengan Pria lain.
Aku masih ingat saat aku tahu itu. Rasanya seperti ditikam dalam gelap. Napasku seolah berhenti, pikiranku kosong, tubuhku gemetar tak terkendali. Aku tidak berteriak, tidak marah, hanya diam dengan air mata yang jatuh tanpa suara tanpa perintah. Tapi jantungku seperti pecah. Untuk pertama kalinya, aku merasa lebih dekat pada kematian dari pada kehidupan.
Selama menjalani hubungan itu, Kita sama-sama sudah bekerja. Walaupun belum berstatus pegawai tetap, penghasilanku sudah cukup. Sementara dia, sebagai tenaga kesehatan yang juga belum berstatus tetap, dia harus membagi penghasilannya untuk membantu adik-adiknya sekolah.
Dia adalah anak sulung sementara Aku anak tunggal di keluarga yang hanya ada Aku dan Ibu.
Sejak kecil aku belajar bahwa hidup harus diperjuangkan.
Mungkin karena itu Tuhan memberiku sedikit kelebihan: kecerdasan dan sifat pekerja keras.
Semenjak kuliah, aku bukan hanya aktif di organisasi, tapi juga bekerja sampingan sebagai desainer grafis, fotografer pernikahan, bahkan asisten dosen dan setelah lulus Aku bekerja Di Lembaga Pemerintahan.