Dibalik kata MoveOn

Pemberi Nyaman
Chapter #2

Clara dan Laura: Hadir di Tengah Reruntuhan

Aku tidak pernah benar-benar mencari pengganti. Setelah dia pergi, setelah pengkhianatan itu aku lebih sering menghindar dari apapun yang menyerupai cinta. Dunia bagiku waktu itu terasa sunyi dan dingin, meski ramai oleh aktivitas.

Aku kembali sibuk bekerja, tenggelam dalam rutinitas yang kuanggap sebagai pelarian. Tapi ternyata, semesta punya rencana lain. Mereka datang tidak bersamaan. Dimana Clara lebih dulu muncul.

Clara datang di saat aku tak lagi percaya cinta itu ada dan menjadikan hubungan adalah transaksi berjalan karna butuh dan pergi saat tak ada lagi bahagia. Jika siapapun disampingku saat itu memilih pergi, kulepaskan dia tanpa ada penyesalan bahkan goresan kecil di hatiku.

Pertemuan kami bukan kebetulan, tapi juga bukan sesuatu yang kusiapkan. Kami dipertemukan lewat teman. Awalnya aku mengira dia hanya akan jadi teman dalam tongkrongan namun dari kalimat yang aku ingat saat satu malam, aku berucap, "Aku tidak percaya cinta lagi", namun perlahan keadaan memaksaku untuk hadir dan membuat seseorang jatuh cinta dan hari itu Clara bergerak menjadi orang yang paling berupaya buktikan kalau di dunia ini masih ada orang yang benar-benar mencitaiku.

Clara bukan milikku. Bukan pacarku. Bukan kekasih yang kutemui di tengah perjalanan. Tapi dia adalah bagian dari lingkaran persahabatanku semua teman dekatku adalah temannya, seseorang yang sudah terlalu lama berada di orbit kehidupanku namun baru ku temui.

Dan dari awal aku mengenalnya, Clara bersama satu pria yang sama selama sembilan tahun menemaninya. Hubungan yang sudah lebih mirip rumah daripada sekadar ikatan. Semua orang tahu Clara itu baik dan royal kepada pasangannya. Bahkan mungkin terlalu baik. Dia bertahan dalam hubungan yang tidak selalu sehat, hanya karena dia percaya, cinta itu layak diperjuangkan.

Dan aku? Aku hanya teman tongkrongan. Seseorang yang dia kenali tidak cukup lama saat itu, namun menjadi yang dia tawa-tawakan di tongkrongan setiap malam minggu, yang kadang dia panggil buat curhat saat pacarnya berubah dingin. Kami dekat, tapi selalu ada batas. Sampai hari itu, hari dengan malam paling bodoh yang pernah kualami.

dengan Hatiku masih penuh luka dari pengkhianatan masa lalu. Yang entah kenapa, Clara ada di sana. Menemani tanpa banyak tanya. Kami bicara banyak hal, tentang kehilangan, tentang lelah mencintai, tentang hidup yang kadang begitu tidak adil. Obrolan itu pelan-pelan berubah jadi pelarian. Dan mungkin, kami berdua hanya ingin merasa hidup walau cuma semalam.

Pagi itu, Clara terbangun di sampingku. Dan di matanya ada kekosongan yang bahkan tak bisa disembunyikan oleh senyum paling tipis sekalipun. Mungkin dia sadar apa yang baru saja terjadi. Mungkin dia bahkan sudah tahu, bahwa malam itu akan merusak segalanya atau memulai hal yang baru. Tapi tetap saja, kami membiarkannya terjadi.

Sampai tiba rasa yang besar tumbuh di hati Clara terhadapku sampai Clara memutuskan hubungannya dengan pacar yang sudah sangat lama menemaninya, memang setahuku pacarnya selingkuh tapi yang pastinya keputusan itu tak akan mudah diambilnya jika tidak mengenalku. Sembilan Tahun Hancur hanya karena satu malam. Karena aku.

Dia menyebutnya cinta. Tapi bagiku, itu cinta buta. Karena bagaimana bisa seseorang yang sudah punya rumah, tiba-tiba memilih tersesat di tempat asing seperti aku?

Clara tumbuh dalam keluarga yang bisa dibilang berada, tidak hanya secara finansial, tapi juga secara sosial. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang dihormati di lingkungannya, ibunya wanita elegan yang dikenal aktif di berbagai kegiatan sosial. Sejak kecil, Clara terbiasa hidup dalam lingkungan di mana keinginan bukan sesuatu yang harus diperjuangkan, tapi tinggal dipilih. Apa pun yang dia suka, hampir selalu bisa ia miliki. Sekolah terbaik, barang-barang mahal, hingga perhatian orang-orang di sekitarnya, semuanya datang tanpa perlu ia meminta terlalu keras.

Keluarganya tidak pernah menuntutnya terlalu banyak, karena sejak kecil Clara sudah terlihat "berhasil" di mata mereka. Pintar, cantik, pandai bersosialisasi. Tapi justru karena itu, ia tumbuh dengan rasa kontrol yang kuat terhadap hidupnya dan juga hidup orang lain. Dia tidak terbiasa ditolak. Dunia terlalu ramah padanya. Dan ketika dunia tidak ramah, Clara tahu caranya memaksa dunia untuk tunduk.

Dulu, di sekolah, Clara adalah bagian dari geng paling berkuasa atau semacam, kelompok kecil siswi populer yang bukan cuma cantik, tapi juga menakutkan. Clara bukan hanya ikut-ikutan, dia adalah pusatnya. Dia tidak perlu berteriak atau kasar, cukup dengan ekspresi dingin dan kalimat yang tajam, dia bisa membuat siapa pun merasa kecil. Mereka bukan sekadar anak-anak gaul, mereka adalah pembentuk hirarki sosial di sekolah. Dan Clara? Dia ratunya.

Beberapa teman yang pernah jadi korban mereka masih mengingat betul bagaimana kejamnya tekanan sosial yang diberikan. Tapi anehnya, tidak banyak yang membenci Clara. Karena setelah semua itu, Clara tahu caranya menjadi orang yang manis, atau jadi penyelamat bagi teman yang sudah hampir hancur. Dia paham permainan peran. Dia tahu kapan harus jadi penindas, dan kapan harus jadi pahlawan.

Dan mungkin, dari sanalah semua bermula, kemampuan Clara untuk menyembunyikan badai di balik senyum. Kemampuan untuk mencintai dengan keras, namun juga menghancurkan dengan tenang.

Clara bersama pria itu selama sembilan tahun. Sebuah hubungan yang dari luar tampak seperti rumah yang hangat dan kokoh. Hubungan mereka yang awali dari tumbuh bersama, melewati banyak fase hidup dari Clara yang masi di bangku sekolah, kuliah, hingga membangun awal karier. Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup Clara, tak semuanya seindah yang terlihat.

Tak banyak orang tak tahu, hubungan itu sebenarnya tak pernah direstui oleh kedua orang tuanya. Bukan karena pria itu tidak baik, dia pekerja keras, cukup mapan, dan mencintai Clara. Tapi dia datang dari latar belakang yang berbeda. Bukan dari keluarga yang tak berada atau keluarga yang tak memiliki gelar prestisius, namun entah kenapa, menurut orang tua Clara, dia bukan sosok yang tepat untuk mendampingi putri mereka.

Namun Clara bertahan. Karena cinta, atau mungkin karena ingin membuktikan bahwa ia bisa menentukan hidupnya sendiri. Bertahun-tahun ia berdiri di antara dua dunia yang tak pernah mau saling menerima. Dan di balik semua perjuangan itu, hubungan mereka perlahan retak, bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu banyak tekanan dari luar yang dibiarkan masuk.

Yang ironis, secara logika, pria itu jauh lebih menjanjikan daripada aku. Saat itu dia sudah memiliki pekerjaan tetap, masa depan yang lebih jelas, dan secara finansial tentu jauh lebih mapan. Sementara aku? Masih terseok dengan hidup yang bahkan belum sepenuhnya kupahami. Masih mencari pijakan setelah dihancurkan oleh kisahku yang sebelumnya.

Lihat selengkapnya