Mengenang saat itu.
Sore yang sejuk di puncak bukit, tempat di mana kota kecilku terlihat begitu jelas dari kejauhan lampu-lampunya mulai menyala perlahan seiring matahari turun ke peraduan. Di sanalah aku akhirnya berhenti menahan apa yang selama ini diam-diam tumbuh. Aku tidak membawa bunga, tidak ada rencana besar atau kata-kata manis yang dirangkai sempurna. Hanya hati yang jujur, dan keberanian yang lama tertahan.
Aku menatap matanya, lalu menyampaikan semuanya, tentang perasaanku, tentang keinginanku untuk tidak lagi menahan-nahan, dan tentang harapanku agar dia mau berjalan bersamaku. Dan kata-kata itu pun keluar dari mulutku, aku tidak hanya sedang menyatakan cinta. Aku sedang membuka pintu, menawarkan tempat, dan mencoba memperbaiki bagian dari diriku yang selama ini takut untuk benar-benar memilih.
Dan dia tidak pergi. Hari itu, dia menjadi milikku bukan dalam kepemilikan, tapi dalam kehadiran yang tulus.
Tapi aku tidak pernah bohong tentang masa laluku. Laura tahu tentang Clara. Tentang bagaimana Clara pernah menjadi bagian penting dalam hidupku, dan bagaimana aku menyakitinya. Aku tidak menyembunyikan luka-luka itu, karena aku tahu, cinta yang akan bertahan tidak dibangun dari kebohongan.
Namun justru di sanalah letak rasa bersalahku bukan hanya pada Laura, yang menerima hati ini apa adanya, tapi juga pada Clara, yang pernah kubuat percaya bahwa aku akan tetap tinggal sampai lukanya benar-benar sembuh.