Dibalik kata MoveOn

Pemberi Nyaman
Chapter #6

Pesan yang Membuka Luka

Kadang, hidup tak butuh badai besar untuk mengacaukan segalanya. Cukup satu notifikasi. Satu pesan. Dan sisa tenang yang aku bangun perlahan, runtuh dalam sekejap.

Hari itu kami sedang nongkrong di sebuah kafe kecil langganan tongkrongan lama tempat yang penuh tawa dan obrolan receh. Tempat di mana semua orang terlihat baik-baik saja, termasuk aku dan Clara.

Ya, Clara ada di sana. Duduk tak jauh dariku, ikut larut dalam cerita-cerita lelucon teman. Kami memang tetap berteman setelah semuanya, walau tak pernah benar-benar sama. Tapi hari itu, entah kenapa, terasa ringan. Sampai sebuah pesan WhatsApp masuk.

Ponselku tergeletak di meja, tanpa kunci, seperti biasanya. Aku sedang menoleh ke arah lain, mendengar cerita teman. Tapi Clara duduk cukup dekat. Cukup dekat untuk membaca nama yang muncul di layar, dan kalimat yang menyertainya:

"Sayang, selesai nongkrong ke rumah yah. Aku lagi coba bikin kue, semoga kamu suka. Ntar cobain yahh."

Seketika tawa di kafe itu tak lagi terdengar sama.

Clara diam. Lama. Bahkan terlalu lama untuk ukuran seseorang yang baru saja membaca pesan orang lain. Aku menoleh, dan saat mata kami bertemu, aku tahu semuanya sudah berubah. Tak ada marah, tak ada bentakan, tak ada air mata. Hanya tatapan yang kosong. Seolah semua kata-kata yang ingin ia ucapkan sudah terlalu berat untuk dilontarkan.

"Akhirnya ketahuan juga ya"

ucapnya pelan, tapi tajam. Seolah itu bukan kejutan, tapi konfirmasi dari sesuatu yang selama ini ia curigai namun enggan diakui.

"Aku nggak sengaja lihat, maaf"

lanjutnya sambil tersenyum, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan.

Lihat selengkapnya