Setelah pesan-pesan itu, setelah sore di kafe yang berubah jadi medan luka aku tahu semuanya sudah berbeda.
Clara tak lagi muncul di tongkrongan. Tapi bukan itu yang paling aku sadari. Yang paling terasa adalah kosongnya. Seperti ada lubang yang kembali menganga, bukan karena aku kehilangan dia, tapi karena aku menyadari luka yang dulu sembuhnya kubantu, kini justru aku yang menorehkannya lagi.
Dan mungkin itu yang membuatku tetap hadir.
Bukan sebagai kekasih. Bukan untuk mengulang masa lalu. Tapi sebagai seseorang yang tahu betul, bagaimana rasa patah itu terasa dan ingin setidaknya memastikan, dia bisa berdiri lagi.
Jadi, aku kembali muncul di hidupnya. Lewat pesan-pesan singkat, atau sekadar menanyakan kabarnya. Kadang, datang diam-diam ke tempat ia biasa menghabiskan waktu. Aku tidak berharap apa-apa, tidak minta dimaafkan, bahkan tidak ingin dia kembali percaya. Aku hanya ingin menjadi tubuh yang bisa dia peluk saat sakit. Tangan yang bisa ia genggam, saat dia masih belum mampu melepaskan.
Aku pikir, aku kuat untuk membagi diriku begitu. Bahwa aku bisa tetap jadi kekasih yang utuh untuk Laura, sementara aku juga menebus rasa bersalahku pada Clara. Tapi ternyata tidak.