Setelah semua hancur di hadapan Clara, aku pikir badai paling besar telah berlalu. Tapi nyatanya, badai itu baru saja berpindah arah dan kali ini menghantam orang yang justru paling ingin kulindungi, Laura.
Dia tidak marah, tidak menghardik, tidak langsung berbalik meninggalkanku. Justru ketenangan itulah yang paling menakutkan. Sebab di balik diamnya, tersimpan begitu banyak pertanyaan yang tak sanggup ia ucapkan. Tatapannya masih sama, lembut, hangat, dan penuh kelembutan namun ada sesuatu yang perlahan berubah. Jarak itu tumbuh nyaris tanpa suara, bening seperti dinding kaca yang tak kasatmata namun tetap memisahkan. Aku masih bisa melihatnya dengan jelas, merasakan kehangatannya namun dari seberang, sampai aku seakan tak lagi mampu menjangkaunya.
"Aku gak tahu... harus percaya yang mana."
katanya malam itu.
"Kamu terlalu baik ke Clara dan itu gak salah. Tapi salahku juga karena berharap kamu cuma punya satu arah."
Dan malam itu, aku memilih diam. Bukan karena tak punya jawaban, tapi karena sedang menyusun keberanian untuk berkata sejujur mungkin.
"Aku gak pernah niat mainin kalian. Sumpah. Aku cuma gak tahu cara yang tepat buat melepaskan seseorang yang pernah hancur karena aku,"
"Aku cuma... masih merasa bertanggung jawab. Tapi bukan cinta. Bukan ingin kembali."
jawabku pelan.