Hari itu, aku duduk di antara ratusan peserta lainnya, mengikuti ujian CPNS di satu Kota.
Kota ini asing, bukan tempat aku tumbuh, bukan tempat yang menyimpan kenangan tapi entah kenapa, justru di kota ini aku merasa sesuatu sedang menuntunku pada bagian hidup yang belum selesai.
Pikiranku bercabang, tak hanya tentang soal ujian, tapi tentang satu nama yang masih diam-diam menetap di kepalaku. Nama yang tak pernah benar-benar hilang: Laura.
Dan tiba-tiba, saat aku istirahat dan membuka ponsel, satu notifikasi WhatsApp muncul.
Nama itu. Nama yang hanya bisa membuatku berhenti bernapas sejenak.
"Kamu di sini juga? Ikut tes CPNS ya? Semangat, semoga lancar ya..."
Jantungku berdebar, bukan karena soal ujian yang rumit, tapi karena satu kenyataan sederhana, Laura ada di kota ini. Di kota yang sama. Di waktu yang sama. Dan dia mengingatku.
Aku balas pesan itu dengan tangan bergetar:
"Iya, aku di sini juga. Kamu juga ikut? Kapan selesai tesnya?"
Dari sana, percakapan yang lama mengendap mulai kembali mengalir. Tak terburu-buru, tak berlebihan, cukup hangat untuk membuatku merasa belum sepenuhnya kalah.
Dan malam itu, setelah semua sesi ujian selesai, Laura mengajakku bertemu. Kota ini asing bagi kami, tapi malam itu, kami memilih bertemu di sebuah sudut kecil yang kebetulan tak terlalu ramai, sebuah taman kecil namun tak jauh dari pusat kota. Tempat yang bahkan tak punya sejarah, tapi justru menjadi jadi tempat paling menampung banyak kenangan tentang hubungan kami, hubungan yang pernah ditata ulang setelah hancur.