Dibalik kata MoveOn

Pemberi Nyaman
Chapter #10

Kembali ke Kota yang Tak Lagi Sama

Kami kembali ke kota itu. Kota kecil yang dulu penuh dengan tawa, cerita, dan kenangan manis. Namun, kali ini semuanya terasa berbeda. Udara yang dulu menyambut dengan hangat kini terasa berat, penuh dengan bayang-bayang yang tak bisa dihindari. Setiap sudutnya seperti menyimpan memori yang begitu nyata, namun tak bisa diulang.

Aku dan Laura berjalan berdampingan, namun jarak di antara kami terasa semakin jauh, meskipun kami berusaha merapatkan langkah. Wajahnya, yang dulu selalu ceria dan penuh kehidupan, kini dipenuhi dengan kekakuan. Setiap kata yang keluar darinya terasa dingin, tidak seperti dulu. Seolah ada dinding tak kasatmata yang menghalangi kami untuk saling mendekat.

Yang membuat semuanya makin sulit adalah kenyataan bahwa seminggu yang lalu, hanya seminggu, kami masih berbicara dalam pelukan. Masih berbagi janji di tengah malam, di kota asing, dengan hati yang seolah menemukan jalan pulang. Saat itu aku yakin: kami sudah kembali, kami sudah melewati badai. Tapi kini, Laura kembali menjauh. Dalam waktu yang begitu singkat, dia berubah. Terlalu cepat. Terlalu dingin dan aku tak mengerti, kenapa?.

Kami sampai di depan rumahnya, tempat di mana kami sering duduk bersama, bercanda, dan berbagi cerita. Tempat yang dulu menjadi saksi kebahagiaan kami, tempat di mana tawa dan lelucon sering terucap. Di bangku depan rumah itu, tempat di mana aku sering merasa sandaran hangatnya, dia yang selalu ada untukku, kini aku hanya bisa merasakan kekosongan.

Aku menatapnya, berharap ada kehangatan yang kembali muncul. Tapi wajahnya datar. Sorot matanya dingin, nyaris asing. Aku ingin bertanya, ingin protes, ingin tahu alasan di balik semua ini, tapi suaraku tertahan di tenggorokan. Karena bagian terdalam dalam diriku tahu: ini bukan hanya perubahan suasana hati. Ini adalah keputusan yang telah ia siapkan diam-diam.

"Aku tahu,"

ucapnya dengan suara yang lembut namun penuh ketegasan.

"Aku nggak bisa terus kayak gini. Aku nggak bisa terus berharap pada sesuatu yang nggak pasti."

Aku mencoba untuk mendekat, tapi dia mundur sedikit, menjaga jarak. Itu bukan lagi Laura yang dulu. Ini adalah Laura yang terluka, yang telah melewati banyak hal, yang kini hanya melihat masa depan dengan ragu-ragu.

"Kita baru mulai lagi, Ra..."

Lihat selengkapnya