Tak semua hari ulang tahun datang membawa kue dan tawa.
Ada yang datang membawa pisau, mengiris pelan-pelan sisa harapan yang pernah aku jaga mati-matian.
Hari itu, hari ulang tahunku. Juga hari kelulusan yang seharusnya menjadi momen bahagia setelah perjuangan bertahun-tahun, aku akhirnya resmi menjadi ASN.
Sebuah pencapaian yang kubangun diam-diam sebagai bukti bahwa aku berupaya menjadi pria yang pantas untuk Laura.
Bahwa aku bukan lagi lelaki penuh luka tanpa arah, dan dia sebagai tujuan.
Tapi semesta, dengan segala selera humornya, memilih hari itu untuk menyampaikan satu kenyataan,
Laura kembali pada mantannya.
Dan entah kenapa, kenyataan itu lebih menyakitkan daripada perpisahan kami. Bukan hanya karena dia kembali dengan masa lalunya,
tapi karena kejadian itu terkesan terlalu cepat, seolah aku tak pernah berarti.
Seolah cinta yang kami perjuangkan hanyalah transit sementara, sebelum ia pulang ke pangkuan masa lalunya.
Padahal sebelumnya aku yang sudah pernah porak-poranda dari luka.