Setelah Laura pergi dan membawa cahaya terakhir dari hidupku, aku kembali menjadi versi terburuk dari diriku sendiri. Si bangsat. Si Baba Yaga.
Dalam kehampaan yang kutelan hari demi hari, muncullah mereka wanita-wanita yang tak pernah kuminta, tetapi entah mengapa datang satu per satu. Seperti senja, cantik, memikat, hangat, namun sesaat.
Mereka bukan pengganti Laura, karena tidak ada yang benar-benar mampu menggantikannya. Namun ketika malam terasa terlalu sunyi dan luka menjadi terlalu dalam, senja-senja itu seolah menjelma sebagai pelarian. Mereka menemaniku dengan tawa yang tak pernah benar-benar kupahami maknanya, dengan pelukan yang tak pernah benar-benar berhasil menyentuh hatiku.
Ada yang datang dengan perhatian, ada yang datang dengan tawa, ada pula yang datang hanya untuk sama-sama menenangkan luka.
Hubungan itu lebih seperti rasa nyaman yang semu dan tak mengikat. Aku dan mereka berbagi bahagia yang diselimuti satu kata butuh. Mereka membutuhkanku saat pacar mereka selingkuh, atau saat mereka hanya membutuhkan sosok yang sekadar memberi pelukan tanpa niat memulai, dan tentu tanpa kata memiliki.
Sementara aku, dari hubungan-hubungan itu, hanya membutuhkan sedikit anestesi untuk luka masa lalu yang terus kucoba redam sakitnya.
Namun, di antara semua senja itu, ada satu yang berbeda. Seseorang yang pada akhirnya kusebut dengan nama yang sama, Senja.
Ia tak datang seperti badai. Ia datang perlahan, seperti sore yang diam-diam mencuri langit dari matahari. Tak banyak bicara, tak banyak menuntut, tetapi caranya mencinta mengingatkanku pada Clara. Hangat, lembut, dan sabar. Ia tahu aku telah rusak. Namun entah mengapa, ia masih memandangku sebagai manusia yang layak untuk dicintai.