Clara tidak pernah benar-benar pergi. Bahkan saat aku hancur, saat aku menjadi versi terburuk dari diriku sendiri seseorang yang tak lagi layak dicintai siapa pun, Clara tetap ada.
Ia bukan seperti Laura yang datang membawa harapan, atau seperti Senja yang menyapa indah namun hanya sebentar. Clara adalah tanah tempat aku jatuh, dan jatuh lagi, tanpa pernah menghakimi. Ia adalah diam yang tidak menuntut, langkah pelan yang tak pernah bosan menunggu.
Ada masa-masa ketika aku bahkan lupa bahwa ia masih memperhatikanku dari kejauhan. Saat aku sibuk menambal luka dengan pelarian-pelarian kosong, saat aku kehilangan arah, Clara tetap diam. Menjadi dirinya sendiri. Menjadi pengingat akan siapa aku sebelum luka membentuk monster dalam diriku.
Yang tak pernah benar-benar diketahui orang lain, bahkan keluarganya sendiri adalah bahwa aku dan Clara sebenarnya sudah lama putus namun bagi kedua orang tuanya, aku masih pria yang suatu hari akan menikahi satu-satunya putri mereka. Mereka tak pernah tahu ada nama-nama lain setelah Clara, tak pernah tahu bahwa kami pernah saling melepaskan, meski tubuh kami kadang masih berdekatan di tongkrongan yang sama.
Dan yang aneh atau mungkin justru indah adalah bahwa kehangatan rumah Clara tak pernah berubah. Ibunya tetap menyapaku dengan pelukan hangat. Ayahnya tetap mengajakku berbincang seperti aku ini bagian dari keluarga, seolah tak ada yang pernah retak. Mungkin mereka memang tidak tahu, atau mungkin mereka hanya memilih untuk percaya bahwa aku akan kembali. Dan diam-diam menggantungkan harapan mereka pada itu.