Dibalik kata MoveOn

Pemberi Nyaman
Chapter #14

Satu Ketukan Pintu, Seribu Luka Lama

Aku pikir semuanya sudah selesai.

Aku pikir, dengan pertunangan ini, hidupku sudah menemukan jalan pulang. Meski tak penuh gejolak cinta seperti dulu, setidaknya aku tenang. Setidaknya aku bisa tidur malam tanpa dihantui bayang-bayang. Setidaknya sampai pesan itu datang.

Sebuah pesan yang hanya soal pekerjaan. Sederhana. Profesional. Biasa. Tapi yang mengirimnya adalah Laura.

Dan bodohnya, itu cukup untuk membuat semua yang pernah kutenggelamkan muncul kembali. Pesan itu seperti ketukan pelan di pintu kenangan. Aku tahu aku bisa memilih untuk tidak membukanya. Tapi refleks jari-jariku seakan bergerak sendiri.

Aku balas pesan itu.

Lalu aku bertanya.

Lalu kami bicara.

Lalu semuanya terbuka.

Pelan tapi pasti, aku jatuh lagi ke lubang yang dulu pernah menghabiskan separuh nyawaku untuk keluar.

 Seminggu setelah itu, kami bertemu. Di kota asing yang tak lagi asing bagiku, Kota yang menjadi tempatku bekerja sekarang. Kota yang dulu jadi saksi janji-janji masa depan yang pernah kuucapkan padanya.

Tentang rumah, tentang hidup, tentang harapan yang akhirnya kurelakan terwujud bersama orang lain.

Pertemuan itu sunyi.

Hanya ada pelukan tanpa kata.

Seakan semua isi kepala dan perasaan kami tak lagi diucap lewat mulut, tapi tersirat dalam hangatnya pelukan.

Aku didekapnya dalam diam lama, tapi tetap terasa kurang.

Aku masih ingin lebih lama bersamanya.

Dan saat kedua mata kami bertemu, aku tahu bahwa selama ini dia belum pernah benar-benar pergi.

Lalu kami mulai bicara.

“Aku tahu kamu masih ngejar aku waktu itu,”

katanya pelan, di sudut kafe kecil yang tak banyak berubah sejak terakhir aku menemuinya di sana.

“Tapi aku gak bisa balas perasaanmu. Bukan karena aku gak punya rasa itu. Tapi karena aku tahu Clara mencintaimu, dan kakakku sahabatnya. Aku gak kuat kalau harus jadi alasan satu orang hancur lagi.”

Aku terdiam.

Selama ini aku kira dia pergi karena rasa itu memang sudah mati.

Ternyata tidak.

Ternyata Laura diam bukan karena tak ingin tapi karena terlalu peduli.

Dan sejak aku tahu itu, luka yang selama ini kusimpan rapi kembali basah.

“Aku minta maaf,”

ucapku pelan.

“Maaf untuk semua tentang Clara, dan untuk janji yang dulu kubuat untukmu yang akhirnya kulanjutkan bersama orang lain.”

Laura mengangguk, tersenyum kecil.

Senyum yang tak lagi seperti dulu, tulus, tapi terasa lelah. 

“Aku tahu dan aku nggak pernah marah. Cuma kadang, ada luka yang gak pernah bisa sembuh bukan karena masih sakit, tapi karena kita gak pernah tahu caranya mengobati.”

Lihat selengkapnya