Aku tidak tahu sejak kapan luka berhenti perih. Tidak tahu pula kapan rindu berhenti mencengkeram.
Sampai saat dimana aku benar-benar menikahi Clara dan waktu berjalan seperti aliran jernih sungai yang mengalir penuh Bahagia. dari pernikahan itu lahirlah malaikat kecilku, cahaya baru hidup ku. seorang putri yang cantik, lucu dan yang selalu ku temani di setiap tumbuh kembangnya.
Yang aku tahu, setiap pagi, saat matahari menyentuh wajah kecil putriku yang tertidur di pangkuanku, aku merasa utuh.
Clara duduk di samping kami, tangannya menggenggam tanganku dengan cara yang tak lagi menuntut. Bukan karena cinta kami besar dan membakar segalanya, tapi karena ia tenang, hangat, dan tumbuh dari puing-puing yang pernah kami bangun ulang berkali-kali.
Pernikahan kami tidak penuh gemerlap. Tidak juga sempurna. Tapi rumah yang kami ciptakan adalah tempat di mana aku belajar kembali menjadi manusia. Bukan Baba Yaga. Bukan lelaki pahit yang membenci romansa. Tapi seorang suami. Seorang ayah. Seorang lelaki yang bisa tertawa tanpa sisa luka di matanya.