Dibawah atap yang sama

Yuni ekawaty
Chapter #6

Di Bawah Atap yang Sama

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang pelan, tapi penuh ujian kecil yang tak pernah benar-benar selesai.

Kehamilan Sinta semakin besar. Tubuhnya masih sering lemah, tapi hatinya mulai belajar kuat. Ia mulai membantu sebisanya—melipat baju sambil duduk, mencuci piring pelan-pelan, atau sekadar menjaga kompor saat Lina ke kamar mandi.

Dan setiap kali itu terjadi, Lina selalu berkata hal yang sama,

“Kalau capek, berhenti. Kamu lagi mengandung amanah.”

Sinta selalu mengangguk, dengan mata yang kini lebih sering berkaca-kaca—bukan karena sakit, tapi karena rasa bersalah yang akhirnya menemukan bentuknya.

Suatu malam, hujan turun deras. Arif belum pulang dari bengkel. Lampu kontrakan sempat mati sebentar sebelum akhirnya menyala redup.

Lina sedang menidurkan Sinta ketika suara motor berhenti di depan pagar.

Bukan motor Arif.

Sinta langsung duduk. Wajahnya pucat.

“Mb… itu kayak motor Mama…”

Lina terdiam.

Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan di pintu. Pelan. Ragu.

Lina menarik napas panjang, lalu berdiri dan membuka pintu.

Di sana berdiri ibu Arif. Wajahnya lebih tua dari terakhir kali Lina melihatnya. Kerudungnya kusut. Matanya lelah.

“Ibu… mau ketemu Arif,” katanya singkat.

Sinta berdiri di belakang Lina. Tubuhnya gemetar.

“Ibu…” suaranya pecah.

Ibu itu menoleh. Tatapannya berhenti di perut besar Sinta. Ada amarah, kecewa, tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang ia coba sembunyikan.

Lihat selengkapnya