Ayah selalu bangun sebelum dunia berniat jahat.
Jam empat pagi, ia sudah duduk di tepi ranjang. Tidak menyalakan lampu. Tidak mengeluh. Seolah kegelapan adalah sesuatu yang harus ia hadapi lebih dulu, sebelum hari menghadapkan hal-hal lain yang lebih kasar. Nafasnya diatur, punggungnya diluruskan. Ayah percaya tubuh yang siap adalah satu-satunya doa yang bisa diandalkan.
Aku terbangun oleh suara pintu kamar mandi yang ditutup perlahan. Tidak pernah dibanting. Tidak pernah tergesa. Di rumah kami, segala sesuatu dilakukan seolah ada sesuatu yang rapuh sedang tidur—padahal yang rapuh justru bangun lebih dulu.
Di dapur, ibu menjerang air. Api kecil. Gerakannya tenang. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup di antara dua keheningan: keheningan ayah, dan keheningan anaknya.
“Kopi,” kata ayah tanpa menoleh.
Ibu mengangguk. Menuangkan bubuk kopi dengan takaran yang sama setiap hari. Tidak pernah bertanya apakah ayah ingin yang lebih manis, atau lebih pahit. Ayah tidak menyukai pertanyaan yang tidak perlu.
Aku keluar kamar dengan langkah pelan. Jam enam lewat sedikit. Seharusnya cukup pagi, tapi di rumah ini, pagi selalu punya standar sendiri.
Ayah melirik jam dinding.
“Kamu bangun jam berapa?” tanyanya.
“Setengah enam,” jawabku.
Ayah mengangguk, tapi bukan anggukan puas. Lebih seperti mencatat sesuatu di kepala—sebuah data kecil tentang kesiapan anaknya menghadapi hari.
“Orang hidup itu harus bangun sebelum dunia bangun,” katanya.
“Kalau dunia duluan bangun, kamu ketinggalan.”
Aku duduk. Menunduk. Mengaduk teh yang sudah disiapkan ibu.
“Dunia nggak nunggu orang yang lambat.”
Aku tahu kalimat itu. Aku tumbuh bersama kalimat itu. Seperti tumbuh bersama bayangan sendiri—tidak pernah ditanya apakah aku ingin memilikinya.
“Ayah,” kataku pelan, hampir seperti berbisik pada meja makan, “kalau bangun kesiangan sekali-sekali, dunia hancur?”
Ayah berhenti minum. Menoleh padaku. Tatapannya tidak marah, tapi penuh sesuatu yang lebih berat: kewaspadaan.
“Sekali-sekali itu yang bikin orang lengah,” katanya.
“Lengah itu mahal.”
Ibu berdiri di dekat kompor. Tangannya berhenti mengaduk. Ia menoleh sebentar, lalu kembali ke panci. Seperti seseorang yang tahu kapan harus hadir, dan kapan harus tak terlihat.
Aku diam. Selalu begitu. Di rumah ini, diam bukan tanda setuju. Diam adalah cara bertahan hidup.
Ayah berdiri. Mengambil tas kerjanya.
“Kamu jangan kebiasaan mikir dunia ini lembut,” katanya sambil mengenakan sepatu.
“Dunia nggak peduli kamu capek atau nggak.”
Aku menatap punggungnya. Punggung yang kukenal sejak kecil. Tegak. Keras. Tidak pernah runtuh di depanku.
“Kalau capek?” tanyaku, entah pada siapa.
Ayah berhenti. Setengah menoleh.
“Capek itu urusan nanti,” katanya.
“Yang penting kamu siap.”
Pintu tertutup. Sunyi jatuh di rumah kami seperti debu. Pelan. Menempel di segala sesuatu.
Ibu duduk di depanku. Menyodorkan piring.
“Makan,” katanya.
Aku mengangguk. Mengunyah tanpa rasa. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi pertanyaan di rumah ini seperti benda tajam—harus disimpan rapat agar tidak melukai siapa pun.
“Ibu,” kataku akhirnya, “Ayah capek nggak?”
Ibu tersenyum tipis. Senyum orang yang terlalu lama belajar menenangkan.
“Ayahmu itu…” Ia berhenti. Mencari kata yang aman.
“Terbiasa.”
Aku ingin bertanya: terbiasa apa?
Terbiasa kuat? Terbiasa menahan? Terbiasa tidak memilih?
Tapi ibu sudah berdiri lagi. Mengangkat piring. Menyibukkan diri dengan air dan sabun. Di rumah ini, pekerjaan rumah sering menjadi alasan paling sopan untuk tidak menjawab.
Siang hari, aku keluar rumah. Jalanan ramai. Orang-orang bergegas seolah dunia memang akan runtuh jika mereka terlambat lima menit. Aku berjalan sambil memikirkan ayah. Tentang bagaimana ia memandang dunia sebagai sesuatu yang selalu siap menyerang.
Aku bertanya-tanya, sejak kapan ia merasa harus selalu siap?
Malamnya, aku pulang dengan kepala penuh. Ayah sudah di rumah. Duduk di ruang tamu. Televisi menyala tanpa suara. Ia menatap layar, tapi matanya seperti sedang menonton sesuatu yang lain.
“Kamu pulang jam berapa?” tanyanya.
“Jam delapan,” jawabku.
“Kemana?”
“Ke rumah teman.”
Ayah mengangguk. Lagi-lagi mencatat.
“Kamu hati-hati,” katanya.
“Sekarang orang aneh banyak.”
Aku duduk di seberangnya.
“Ayah,” kataku.
“Iya?”
“Kalau aku nggak selalu siap, Ayah marah?”
Ayah menatapku. Lama. Seolah pertanyaan itu bukan tentang aku, tapi tentang sesuatu yang belum pernah ia hadapi.
“Kenapa nanya begitu?”
“Aku cuma…” Aku menarik napas.
“Aku capek selalu siap.”
Kalimat itu jatuh di antara kami. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat ayah memalingkan wajah.
“Siap itu perlu,” katanya akhirnya.
“Kalau kamu nggak siap, kamu hancur.”
“Ayah bahagia nggak?” tanyaku.
Televisi terus menyala. Wajah orang-orang di layar tertawa tanpa suara.
Ayah diam lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sederhana.
“Bahagia itu bukan tujuan,” katanya akhirnya.
“Yang penting kamu selamat.”
Aku mengangguk.
Di rumah ini, mengangguk adalah cara paling aman untuk menyelesaikan percakapan.
Ayah kembali menatap televisi. Wajah-wajah di layar bergerak tanpa suara, seolah ikut memahami aturan tak tertulis di ruang tamu kami: jangan terlalu keras, jangan terlalu banyak tanya.
Aku berdiri. Melangkah ke kamar dengan hati-hati, seperti takut lantai mendengar. Di balik pintu, aku bersandar sebentar. Menarik napas yang sejak tadi kutahan.
Sejak kecil, aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh.
Bukan karena pernah diberitahu,
tapi karena ada rasa tidak enak setiap kali aku ingin sesuatu.
Tidak ada larangan yang diucapkan.
Tidak ada ancaman.
Hanya keheningan yang berubah menjadi penanda:
di titik inilah aku harus berhenti.
Dari balik dinding, kudengar ayah berjalan pelan. Langkahnya terukur, nyaris ragu. Ia berhenti di depan kamarku, lalu pergi lagi tanpa mengetuk.
Mungkin ia pikir aku sudah tidur.
Atau mungkin ia tahu, dan memilih tidak masuk.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit.
Banyak hal terlintas di kepalaku—keinginan-keinginan kecil yang selalu kutunda, mimpi-mimpi yang kutaruh di tempat aman agar tidak merepotkan siapa pun.
Di rumah ini, kami jarang berkata tidak boleh.
Kami hanya belajar memahami batas
tanpa pernah tahu siapa yang pertama kali menarik garisnya.
Malam itu, aku menyadari sesuatu:
aku tidak pernah benar-benar melanggar aturan apa pun.
Karena sejak awal,
aku hidup di dalam aturan yang tidak pernah ditulis.
Episode 2
Aturan yang Tidak Pernah Ditulis
Di rumah kami, tidak pernah ada kata dilarang.
Tidak ada papan pengumuman.