Di rumah kami, tidak pernah ada kata dilarang.
Tidak ada suara dibentak.
Tidak ada pintu dibanting.
Tidak ada hukuman yang jelas bentuknya.
Tapi sejak kecil, aku tahu persis
kapan harus berhenti bicara,
kapan harus mengalah,
dan kapan sebaiknya tidak menginginkan apa pun.
Pengetahuan itu tidak pernah diajarkan.
Ia menempel sendiri, seperti bau rumah yang lama-lama tidak lagi kita sadari.
Pagi itu aku berdiri di depan lemari, menatap deretan pakaian yang isinya hampir seragam. Warna-warna aman. Tidak mencolok. Tidak mengundang komentar.
Aku menarik satu kemeja—yang ini sudah sering kupakai. Tidak ada cerita di baliknya. Tidak ada alasan untuk dipertanyakan.
Ibu lewat di belakangku.
“Pakai itu?” tanyanya sambil berjalan ke dapur.
Aku mengangguk.
“Bagus,” katanya.
Satu kata yang terdengar ringan, tapi penuh arti.
Bagus berarti tidak merepotkan.
Tidak bikin orang lain harus menyesuaikan diri.
Ayah sudah duduk di meja makan. Ponsel di tangannya, berita bergulir tanpa ia baca sepenuhnya. Alisnya sedikit berkerut, seperti biasa—seolah dunia selalu menyimpan kemungkinan buruk yang harus diantisipasi.
Aku duduk.
Ayah melirik sepatuku.
“Itu nyaman?” tanyanya.
“Iya.”
“Bisa dipakai jalan jauh?”
“Iya.”
Ia mengangguk.
“Jangan pakai yang bikin susah lari.”
Aku tersenyum tipis.
Aku tidak bertanya lari dari apa.
Di rumah ini, kekhawatiran tidak perlu dijelaskan.
Cukup ditaati.
Siang hari, aku duduk di warung dekat lapangan bersama teman-teman. Meja kayu panjang, catnya mengelupas di beberapa sudut. Gelas plastik berembun, sendok beradu dengan mangkuk. Angin membawa debu, bercampur suara motor yang lewat.
“Jadi ke ibu kota, Yan?” tanya Bagas sambil menyeruput es teh.
Rian mengangguk, wajahnya terlihat lega.
“Jadi. Keterima di universitas negeri.”
“Wah, aman itu,” kata Dimas.
“Orang tua pasti langsung tenang.”
Rian tertawa kecil.
“Iya. Katanya yang penting masa depanku jelas.”
Aku mengaduk minumanku. Esnya sudah hampir habis.
“Kalau kamu gimana?” Rian menoleh padaku.
“Masa masih mau di sini?”
Aku tersenyum. Senyum yang sudah sangat akrab di wajahku.
“Belum tahu,” kataku.
“Masih mikir.”
Bagas menggeleng.