Dibesarkan untuk Kuat (Bukan untuk Hidup)

Muhammad Taufiq Hidayat
Chapter #3

Anak Baik Tidak Banyak Mau

Aku pertama kali belajar tentang siapa diriku

bukan dari cermin,

tapi dari mulut orang-orang dewasa di sekitar rumah.

Setiap ada tamu datang, ibu akan memanggilku keluar kamar.

“Nak, sini,” katanya.

“Salim dulu.”

Aku keluar dengan langkah pelan. Menunduk. Mengulurkan tangan.

“Ini anaknya,” kata ibu.

“Yang paling kecil.”

“Masyaallah,” kata mereka hampir selalu sama.

“Anaknya kalem, ya.”

Aku tidak tahu apa arti kalem.

Tapi ibu tersenyum setiap kali mendengarnya.

“Nggak rewel,” sambung yang lain.

“Jarang kelihatan main ke jalan.”

Ayah biasanya berdiri agak di belakang. Tidak ikut menimpali. Tapi aku tahu, ia mendengar. Tatapannya sesekali jatuh ke arahku, singkat, seperti sedang memastikan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

“Sekarang susah lho cari anak kayak gini,” kata seorang tetangga sambil tertawa.

“Anak sekarang maunya ini itu.”

Ibu mengangguk kecil.

“Dia mah nurut.”

Kalimat itu diucapkan seperti pujian.

Dan aku menerimanya sebagai pujian.

Di acara kenduri, aku duduk rapi di samping ibu. Tidak lari-larian. Tidak merengek. Kalau bosan, aku menahan. Kalau haus, aku menunggu sampai disodori.

“Lihat tuh,” bisik seseorang.

“Anaknya anteng.”

Aku mendengar semuanya.

Dan tanpa sadar, aku mulai belajar:

diam itu baik,

menahan itu sopan,

tidak banyak mau itu membuat orang lain nyaman.

Suatu kali, seorang tetangga menepuk kepalaku.

“Kamu jangan macam-macam ya,” katanya sambil tertawa.

“Bikin bangga orang tua.”

Aku mengangguk.

Aku belum sepenuhnya mengerti arti bangga.

Tapi aku tahu, aku tidak ingin menjadi kebalikannya.

Sejak saat itu, setiap kali ada dorongan untuk meminta sesuatu, ada suara lain di kepalaku yang lebih dulu muncul:

anak baik nggak begitu.

anak baik tahu diri.

anak baik nggak bikin repot.

Dan pelan-pelan, aku tumbuh bersama suara-suara itu.

Aku tumbuh dengan satu pujian yang paling sering kudengar:

anak baik.

Kalimat itu terdengar sederhana. Hangat.

Seperti sesuatu yang seharusnya membuat orang tenang.

“Anaknya baik,” kata tetangga pada ibuku.

“Nggak neko-neko.”

Ibu tersenyum. Ayah mengangguk.

Aku ikut tersenyum, karena aku tahu, itulah peranku.

Aku belajar membaca ruangan sejak kecil.

Nada suara ayah saat baru pulang kerja.

Cara ibu menghela napas ketika lelah.

Aku tahu kapan waktunya bercanda,

dan kapan sebaiknya diam.

Aku tahu permintaan mana yang aman,

dan mana yang hanya akan membuat orang lain gelisah.

Suatu sore, aku pulang membawa brosur kecil dari sekolah. Tentang kegiatan menulis dan membuat film pendek. Kertasnya tipis, warnanya cerah—terlalu cerah untuk rumah kami.

Aku tidak langsung menunjukkannya.

Kumasukkan ke dalam tas.

Lihat selengkapnya