Dibesarkan untuk Kuat (Bukan untuk Hidup)

Muhammad Taufiq Hidayat
Chapter #4

Jangan Merepotkan

Kalimat itu tidak pernah diteriakkan.

Tidak pernah ditempel di dinding.

Tidak pernah menjadi aturan resmi di rumah kami.

Tapi ia selalu ada.

Jangan merepotkan.

Aku tidak ingat kapan pertama kali memahaminya.

Mungkin bukan dalam bentuk kalimat.


Mungkin hanya dari cara ayah menghitung uang di meja makan dengan alis yang tak pernah benar-benar santai.

Atau dari helaan napas ibu yang sedikit lebih panjang ketika harga beras naik.

“Bulan ini agak seret,” kata ayah suatu malam.

Ibu mengangguk kecil.

“Masih cukup.”

Cukup.

Kata itu lagi.


Aku duduk sambil pura-pura membaca buku. Padahal aku sedang menghitung:

berapa uang sekolah,

berapa listrik,

berapa cicilan motor.

Aku tidak pernah diminta ikut memikirkan.

Tapi entah kenapa aku merasa harus tahu.


Sejak itu, setiap kali menginginkan sesuatu, yang muncul pertama bukan aku mau apa,

melainkan ini bikin repot nggak?

Suatu sore aku melihat ibu duduk sendirian di dapur. Tangannya memijat pelan pergelangan tangan kiri.

“Sakit?” tanyaku.

“Capek aja,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.

Aku berdiri beberapa detik di ambang pintu.


Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Tentang jurusan. Tentang kota. Tentang formulir yang sudah kusimpan di laci meja.

Tapi melihat ibu seperti itu, semua kalimatku terasa tidak sopan.

“Besok aku bantu cuci piring,” kataku akhirnya.

Ibu tersenyum kecil.

“Kamu belajar aja.”

Belajar.

Untuk apa?

Pertanyaan itu muncul lagi, tapi tidak keluar.

Siang itu panasnya keras. Kami duduk di warung dekat lapangan. Es teh di gelas plastik mulai berembun dan tawar.

Rian membuka ponselnya dan memutar layar ke arah kami.

“Gue udah keterima tahap satu,” katanya, mencoba santai tapi gagal menyembunyikan bangganya.

“Teknik sipil. Jakarta.”

“Serius lo?” Dina menepuk meja. “Ibu kota!”

Naufal ikut menyela, “Gue lagi nunggu pengumuman Bandung. Kalau lolos beasiswa, bisa lanjut exchange. Dosen pembimbingnya alumni Jerman.”

“Jerman?” Dina tertawa.

“Desa ini makin sepi dong.”

Mereka tertawa bersama.

Aku ikut tersenyum, tapi rasanya seperti berdiri sedikit di luar lingkaran itu.

“Lo gimana?” tanya Rian padaku.

“Kemarin lo bilang lagi cari jurusan.”

Aku mengaduk es teh yang sudah hampir tidak terasa manisnya.

“Masih mikir.”

“Mikir apa lagi?” Dina menatapku curiga.

“Lo tuh jelas banget sukanya bikin video. Presentasi sejarah aja lo bikin kayak film pendek.”

“Itu tugas,” jawabku cepat.

“Tapi lo nikmatin,” potong Naufal.

“Kita aja disuruh presentasi setengah mati. Lo malah nambah adegan.”

Rian mengangguk.

“Kalau nggak daftar perfilman, sayang banget sih.”

Per-fi-lm-an.

Kata itu tidak lagi terdengar seperti lelucon.

Lihat selengkapnya