“Ara, kamu nggak usah ikut les bulan ini dulu ya.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Ara, suara ibunya terasa seperti sesuatu yang pelan-pelan meremukkan isi dadanya.
Ia berdiri diam di depan meja makan kecil yang hanya diterangi lampu dapur. Di atas meja ada semangkuk sayur bayam yang mulai dingin dan sepiring tempe goreng yang bahkan belum disentuh siapa pun.
Ara menggenggam tali tasnya erat.
“Memangnya kenapa Bu?” suaranya pelan.
Ibunya bahkan tidak menatapnya. Wanita itu sibuk menyendok nasi ke piring adiknya.
“Biaya masuk sekolah adikmu banyak. Minggu depan dia sudah mulai masuk.”
Ara menoleh. Di samping ibunya, Naya adik perempuannya terlihat sedang memainkan ponsel barunya sambil tertawa kecil melihat layar. Sesaat kemudian tatapan Ara beralih pada seragam SMA yang baru dibeli.
Benda itu masih tergantung rapi di kursi ruang tamu, lengkap dengan sepatu putih mahal yang tadi sore dipamerkan ibunya ke tetangga.
Cantik, baru, dan disiapkan dengan lengkap. Sementara sepatu Ara ….
Ia menunduk pelan melihat ujung sepatunya sendiri yang mulai terbuka di bagian depan.
Sudah hampir dua tahun dipakai. Meskipun sekolahnya hampir berakhir, tetap saja sepatu adalah salah satu hal terpenting untuk anak sekolah.
“Ara kan tinggal beberapa bulan lagi lulus, pintar lagi. Ibu percaya, kamu pasti bisa belajar sendiri.”
'Pasti bisa.'
Lagi-lagi kalimat itu.