Did I Fall In Love?

Ang.Rose
Chapter #2

#2

Aku tidak tahu, seperti apa rembulan itu, aku tidak paham seperti apa indahnya langit malam, sampai ketika aku duduk di pembatas jendela, mengayunkan kaki seirama dengan deru angin. Aku tidak pernah ingin menjadi orang yang dianggap sebagai pembawa sial, tidak pernah sekali pun.

Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan, ataupun menjadi alasan ibuku meninggal, bahkan sebelum aku menjalani hidupku, aku adalah seorang pembunuh.

-Fallen Star

***

Braak~!!

Bantingan pintu yang begitu keras mengejutkan semua orang, tidak banyak orang di kantor itu, tapi mereka tahu betul, ada yang merusak suasana hati Daisy.

Daisy bukanlah tipe anak yang selalu ceria, menyapa orang-orang atau tersenyum ketika dia datang ke kantor, tapi setidaknya dia tidak pernah membanting pintu hanya karena dia kesal. Daisy adalah tipe orang yang ketika dia marah, dia akan diam, dan tidak banyak bicara.

Tapi kali ini semua berbeda apalagi mereka baru saja pindah ke tempat itu sekitar 6 bulan yang lalu, ketika dia sudah punya tempat yang nyaman untuk bekerja, dia justru memilih untuk meninggalkan tempat itu, dan pergi kesini.

Hanya ada satu orang yang tahu alasan apa yang membuat Daisy meninggalkan kantor sebelumnya dan menyewa kantor sendiri.

“Day,” panggil seseorang dari pintu.

“Apaan?”

“Kenapa? Pake banting-banting pintu, kenapa lo?”

“Gak papa kesel aja gue.”

“Kesel gak usah banting pintu, kalau kacanya pecah siapa yang mau ganti? Lo?”

“Ya tinggal ganti apa susahnya.”

“Astaga, bebal banget jadi orang heran gue. Siap-siap sana lo.”

“Udah rapi.”

Daisy hanya menjawab seadanya, dia sudah berumur 29 tahun tapi kadang temperamen-nya seperti anak belasan tahun yang tidak bisa dijaga dengan baik.

“Naskah baru lo gimana? Jadi mau istirahat apa mau lanjut?”

“Kelarin tur dulu deh, otak gue juga kosong, mana kesel banget hari ini, males ngapa-ngapain gue.”

“Bukannya lo tadi bilang gue mau ke cafe dulu? Kenalan sama Barista di Cafe langganan?”

“Niatnya juga gitu Mbak. Gue udah manis-manis ngajakin kenalan, tahu-tahunya dia bilang kenapa gak pake softlens? Terus, kenapa senyum mulu? Abis itu dia ngasih tumblr gue, udah gitu doang, tahu namanya aja kagak gue. Gimana gak kesel coba?”

“Seorang Daisy yang cantik, tinggi kaya gini di tolak? Beneran?”

“Gak usah mulai kesel ini gue.”

“Salut gue sama tuh laki gak goyah sama sifat culas lo.”

Lihat selengkapnya