Did I Fall In Love?

Ang.Rose
Chapter #3

#3

Seminggu sudah berlalu ah tidak, ini sudah 9 hari, perempuan itu tidak datang setelah aku bicara begitu kasar padanya. Ya, bagaimana tidak, jika aku menjadi dia pun aku tidak mau bertemu dengan orang yang menghinaku seperti itu.

Aku tidak pernah mau terlibat dengan kehidupan pribadi orang lain, karena itu melelahkan, tapi kenapa ketika perempuan itu datang dengan senyumnya yang aku tahu itu tidak tulus, selalu menggangguku.

Seakan aku ingin mengatakan dengan lantang padanya semua orang boleh beristirahat dan meluapkan emosinya, itu bukan sebuah kejahatan.

Aku tidak ingin dia menahan perasaannya dengan senyuman dan membuat dunia tahu bahwa dia baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.

Ketika aku mengetahui kejadian yang menimpa Elena aku jadi mengerti bahwa, jujur terhadap diri sendiri perlu, jika memang lelah istirahat, jika memang sedang kesusahan minta tolong.

Itu tidak akan melukai harga dirimu sama sekali.

Itu yang ingin aku katakan padanya tapi kenapa justru kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

Julian pernah mengatakan bahwa dia benci padaku, karena aku terlalu jujur tapi apa itu salah? Bukankah lebih baik jujur.

Tapi terkadang, aku juga harus jujur pada diriku sendiri, mudah untuk bicara kepada orang lain tapi sulit bicara dengan diri sendiri.

“Jul, gue istirahat dulu.”

“Iya,” jawab Julian, tapi tiba-tiba dia menarik pundakku. “Lo kenapa Pam?”

Pertanyaan yang tidak aku sangka akan aku dengar darinya. Apa begitu terlihat jelas bahwa aku sedang ada pikiran?

“Emang gue kenapa?” aku mencoba menutupi apa yang terjadi.

Julian memiringkan kepalanya lalu mengangkat bahu seakan tidak tahu kata-kata yang pas. “Kaya lagi banyak pikiran, kenapa?”

Ah, ternyata tertulis dengan jelas di dahiku, bahwa ada yang sedang aku pikirkan.

Ya memang ada, perempuan itu, perempuan yang cantik itu yang aku bilang untuk berhenti tersenyum. Sepertinya senyumannya sudah hilang sejak aku mengatakan itu padanya.

Menyesal? Tidak. Aku hanya merasa bahwa senyuman itu lebih baik dikeluarkan jika dia memang bahagia, bukan seperti ini.

Entah memang benar atau tidak, tapi aku pernah mendengar ada orang yang terkena smile syndrome. Dimana orang itu akan tetap tersenyum meskipun hatinya sedang sedih.

Ah, lagi pula sejak kapan aku begitu peduli dengan orang lain, ketika masalahku saja, aku tidak bisa menyelesaikannya.

“Eh gue nanya, malah bengong.”

“Gak papa. Dah ah, gue sebat dulu.”

Aku keluar lagi dari pintu samping, dan menyalakan rokok. Bahkan semenjak hari itu, aku kembali merokok dan bahkan ini bukan aku.

Aku sudah berhenti merokok sejak 3 tahun lalu, tapi entah kenapa kepalaku terlalu berisik beberapa bulan belakangan ini dan akhirnya, rokok yang menjadi pelarianku.

Drrt~!

Ngapain ini orang nelfon gue.

“Kenapa?”

“Ini gue, Ryan.”

“Tau gue, gue gak hapus nomor lo. Ada apa? Gue lagi kerja.”

“Gue denger lo udah balik ke Jakarta?”

“Udah mau setahun gue balik, kenapa?”

“Masa sih? Kok lo gak bilang gue? Kita temenan gak sih?”

“Dih, udah deh gak usah basa-basi-busuk, ada apa?”

“Hari ini rencana mau pada ketemuan, reuni kecil-kecilan mumpung pada di Jakarta. Terus si Zake bilang, katanya lo di Indo, makanya pada nyuruh gue ngajakin lo.”

“Terus maksudnya gue disuruh ikut?”

“Ayolah Pam, kali-kali lah.”

Lihat selengkapnya