Did I Fall In Love?

Ang.Rose
Chapter #4

#4

Berbeda dengan yang biasanya, Pamungkas membuka cafe tidak dengan bersungut-sungut, seakan kejadian tidak enak setelah bertemu dengan teman-temannya sudah terobati begitu saja.

Baru kali ini Pamungkas merasa senang bekerja. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, tidak ketika dia bekerja di restoran michelin yang bergaji tinggi ataupun ketika dia di jepang.

Triings~!

Tanpa basa-basi Pamungkas melihat ke pintu memastikan, apakah dia menepati janji untuk datang dan ternyata, dia datang.

“Welcome to Coffee Buy,” ucap Pamungkas seperti biasa.

“Hai Aji, pagi,” sapanya dengan lembut, kali ini dia tersenyum, dan itu terasa begitu tulus.

Pamungkas pun tersenyum, “pagi. Sama kan?”

“Sama kok,” ucap Daisy sambil memberikan tumblr dan kartu miliknya.

“Gak usah, dari gue aja.”

“Beneran?”

“Iya, tunggu aja di pinggir ya.”

“Oke,” Daisy berjalan ke pinggir supaya bisa melihat Pamungkas membuat kopi. “Eh kamu tuh kalau pagi sendirian?”

“Biasanya sih enggak, biasanya yang buka Julian, cuma belakangan ini aku yang buka.”

“Oh gitu, lagi pada sibuk apa gimana?”

“Ya, ada urusan masing-masing lah mereka. Jadi aku ngalah aja.”

“Kamu kelar jam berapa?”

Cafe tutup jam 8 cuma aku jam 7 udah keluar, kenapa?”

“Wanna grab dinner?”

Sure, mau di jemput?”

“Gak usah, ketemuan aja di Manny’s gimana?”

“Ah, steak?” tanya Pamungkas mencoba memastikan, karena dia tahu sekali pemilik Manny’s dan beberapa chef disana.

“Gak suka ya?”

“Kamu mau makan steak?”

“Apa aja sih sebenernya. Kenapa? Punya rekomendasi?”

“I can make something for you if you want.”

“So, are you a chef?”

“Ya kurang lebih begitulah, latar belakang aku memang kuliah kuliner, dulu sempet kerja di restoran, terus gak lama keluar, sekarang disini.”

“Ah, pantesan.”

“Kenapa?”

“Kemarin waktu kamu balik, pas aku mau masuk lagi, ada 3 koki lari-lari nyari kamu.”

Pamungkas terdiam dia tidak menjawab ucapan itu karena memang dia tahu, ada beberapa temannya yang bekerja disana.

“Ji?” panggil Daisy.

Namun Pamungkas tetap diam seperti orang yang kehilangan kesadaran.

“Pamungkas Dwiaji!”

“Ah yah, sorry gak fokus.”

“My place or your place?”

“Gak mau makan disini?”

Daisy menggelengkan kepalanya. “Gak deh kayaknya.”

“Oke, kalau gitu tempat aku gimana? Tapi kita mesti belanja dulu.”

Lihat selengkapnya