Kemarin malam ketika dia mengetik namanya di ponselku, aku melanjutkan mencari tahu tentangnya di rumah, ternyata dia merupakan seorang penulis yang cukup terkenal belakangan ini.
Aku tidak pernah membaca novel, menonton film pun juga jarang aku lakukan jadi aku tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi di dunia literasi belakangan ini.
Tapi ketika mencari tahu tentangnya memang sepertinya dia memang sedang naik daun, bahkan setiap acara pembacaan bukunya saja selalu dipenuhi oleh banyak orang.
Dia sepertinya dicintai oleh para pembacanya tapi entah kenapa, aku melihat dia seakan memendam sesuatu yang besar, seakan tidak menginginkan orang lain melihat dirinya yang asli.
“Udah mau balik lo?” tanya Rein.
“Ah iya gue ada janji sama orang, besok gue aja yang nutup, dan lo Jul,” ucapku sambil menatap Julian yang sedang membersihkan konter.
“Kenapa?” Julian sontak menjawab begitu mendengar namanya dipanggil.
“Tolonglah, besok lo ya yang buka ya, gue mau istirahat.”
“Oke, gapapa santai.”
“Ya iyalah, orang besok Erin libur makanya mau dia,” timpal Rein.
“Namanya juga bucin sama mantan istri, di tolak Elena balik ke mantan istri.”
“Sialan lo, pergi sono.”
Aku keluar dari cafe menuju Hers, sebuah supermarket yang dekat dengan cafe dan apartemenku, aku berjalan sambil melihat ponselku.
Dia cukup sibuk apa dia benar-benar punya waktu untuk bermain, bukannya lebih baik istirahat saja, bahkan ketika aku melihat jadwalnya di insta dia memiliki jadwal yang sungguh amat padat.
“Pam!!” sebuah teriakan yang melengking terdengar ke telinga.
Aku terkadang melupakan sesuatu. Wilayah ini masih dekat dengan MY Mall, dan mereka berdua–-setelah kontroversi beberapa waktu lalu dan bahkan berimbas sampai ke Coffee Buy kini seakan tidak bisa dilepaskan satu sama lain.
Trauma berat Ben yang ditinggal Elena selama 4 bulan membuatnya tidak mau melepaskan Elena dari pandangannya, hubungan mereka sudah hampir setahun lamanya tapi tingkah mereka masih seperti orang yang dimabuk asmara.
“Oh hai, apa kabar?” tanyaku.
“Lo ngapain tumben? Bukannya anak-anak dapet jatah makan di cafe?” tanya Ben begitu saja.
“Ah, gue lagi ada janji sama orang.”
“Ketemuan disini?” tanya Elena.
“Iya, kalian berdua?”
“Oh kita mau balik ke apart, jangan lupa bulan depan ya,” ucap Elena kembali mengingatkanku.
“Iya, mana mungkin gue lupa, anak-anak pada nungguin juga soalnya.”
“Salam sama yang lain ya nanti kapan-kapan gue main.”
“Aji,” kali ini suara itu yang terdengar, ya tidak ada satupun orang yang memanggilnya Aji selain dia.
Aku mau tidak mau menoleh dan melihat Daisy ada di belakangku, dan dua orang ini masih ada disana.
“Wooow, pacar ya?” goda Elena.
Tidak heran jika dia berpikiran seperti itu, Daisy berjalan mendekati kami, dia sepertinya menyempatkan diri untuk pulang dan mengganti pakaiannya.
Ketika tadi pagi dia hanya memakai rok pendek dengan kaos oversizenya seperti biasa, kini dia pakai rok berwarna kuning terang dengan sweater putih yang oversize juga, dan tidak lupa kacamata yang besar itu.
Aku yakin Elena seperti bertemu dengan kembarannya hari ini.