Seperti biasa gadis mungil itu tampak fokus pada layar datar. Jemarinya menari-nari diatas keyboard. Sesekali tersenyum karena telah menyelesaikan tulisannya dari bab ke bab lainnya. Gadis mungil itu tampak menyukai hobinya. Baginya itu adalah healing terbaik setelah seharian ini sangat melelahkan.
Arin selalu berada di kamar berjam-jam lamanya hanya untuk menyelesaikan satu Bab yang menjadi kebiasaannya. Mungkin bagi orang lain ini adalah hobi yang paling membosankan bagi orang yang melihatnya. Tetapi bagi Arin ini adalah hobi yang menurutnya sangat menyenangkan.
Membaca dan menulis sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Namun gadis mungil itu sekarang sudah fokus pada hobinya. Pelan-pelan gadis itu mulai mengembangkan apa yang ia miliki. Misalnya saat ini.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pasti adik-adik sepupunya akan kembali berteriak jika ada perkumpulan untuk makan malam bersama.
Arin menoleh menatap begitu banyak berkas di berserakan di kasur kecil itu. Arin dengan segera membereskan lalu beranjak turun kebawah. Arin terkejut begitu banyak makanan yang tersedia.
Gadis mungil itu melangkah keluar rumah. Melihat sekitar rumah yang sudah di penuhi oleh anak-anak kecil yang sedang bermain di sekitaran gang.
•••
Tidak lama kemudian terdengar suara deringan telepon, membuat Arin melihat siapa yang meneleponnya. Mama, gumam Arin dalam hati. Gadis itu kini kembali ke rumahnya setelah berjalan-jalan sekitaran gang.
Gadis mungil itu kembali menelpon ibunya yang saat ini berada di kampung halaman setelah setahun kepindahannya. Gadis kembali menghubungi ibunya.
Mom is Calling...
"Mom, kenapa?" Tanya Arin
"Iya, Rin. Gimana kabar? Apa kamu sudah dapat kerja?" Tanya Mama Dea di seberang sana.
Arin menghela napas panjang, lalu mencibir. "Belum, Mah." Jawabnya singkat
"Kenapa tidak lanjutkan saja di tempat tantemu sana. Disanakan bisa, gantiin tantemu nanti." Ucap Mama Dea berharap pada anak sulungnya itu.
Arin menghembuskan napas gusar, "Aku sudah ajukan lamaran pada kantor Tante Maya. Lagi nunggu," jawabnya lagi, sudah merasa malas ditanya seperti itu.
Padahal Tante Maya sendiri yang menyuruh Arin mencoba diluar kampus mencari kerja. Dan Arin sudah mengelilingi kota dan memasukkannya banyak lamaran disana tetapi hasilnya tetap sama. Belum rezeki, katanya.