Different Change

Asrina Lestari
Chapter #4

Chapter #3

Dua Minggu setelah mendengar kabar tentang kepulangan pamannya dari rantauan membuat Arin tampak antusias. Setelah sekian lama tidak bertemu. Di tambah dengan hadirnya adik sepupu kecilnya itu yang katanya sungguh menggemaskan.

Paman Arman, merupakan adik bungsu dari Mama Dea. Lelaki bertubuh kurus, dengan wajah tirus. Lelaki yang pergi di perantauan selama 10 tahun lamanya akhirnya kembali juga setelah sekian lama.

Saat ini Arin tengah bersiap-siap untuk pergi ke Laundry bersama dengan adiknya, Rian. Lelaki itu sudah rapi dengan pakaian casualnya. Setelah itu Arin turun dan disana Rian yang juga sudah siap berangkat.

"Kalian nginap lagi disana, ya?" Tanya Rika.

Arin dan Rian mengangguk kepalanya, "Ya, cuman dua hari. Kayak biasanya." Jawab Arin lagi.

"Kalau gitu kita berangkat dulu," Pamit Rian.

Kendaraan di kota berlalu lalang pada malam hari. Meski tampak lengang, ibukota akan terlihat ramai akan lampu-lampu yang indah.

Memasuki gang, hingga motor tersebut berhenti di sebuah gedung kecil, gadis itu turun lalu masuk ke dalam. Seperti biasa tumpukan pakaian di keranjang, yang akan menjadi pekerjaan Arin esok hari.

Malam ini hanya melipat pakaian yang akan segera di packing. Arin menyimpan tasnya ke dalam kamar yang di tempatinya. Setelah itu, Arin kembali bekerja. Suasana hangat di ruangan itu. Duduk berkumpul sembari melipat pakaian pelanggan.

Ada tawa canda yang tercipta membuat suasana menjadi hangat. Begitulah kedekatan Arin dan sepupunya keluarganya.

Tanpa terasa waktu berjalan dengan semestinya. Arin tampak senang berada disana. Arin menyukai kehangatan yang hadir. Mencari pekerjaan cukup membuatnya pusing. Banyak yang menyuruhnya mendaftar sana sini. Arin hanya bisa menghela napas panjang. Lelah sudah pasti.

•••

"Hah, seriusan."

Gadis mungil itu tampak terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Orang yang sedang ngekos di rumah bagian bawah itu selalu berbuat ulah, kata Leana dan Rika. Dan juga selalu mendengar keributan serta perdebatan di bawah.

"Wahh kacau kalau begitu." Ucap Arin masih tidak menyangka.

"Nah, Bahkan waktu tengah malam itu. Aku liat juga dia. Diam-diam ngambil beras. Selalu gosongin panci kalau lagi masak. Berantem terus," keluh Leana kesal.

"Udah kasih tau Mama belum, Le?" Tanya Arin pada sepupunya.

Lihat selengkapnya