Different Change

Asrina Lestari
Chapter #5

Chapter #4

Arin menatap nanar pada layar notebooknya. Benda kesayangannya kini sudah mulai error. Entah apa yang di lakukan pamannya serta anaknya itu. Sungguh menyebalkan bagi Arin. Gadis mungil itu menggeram kesal.

Notebook yang dengan susah payah ia beli dengan hasil keringatnya sendiri. Kini harus error dari orang yang gak bertanggung jawab seperti pamannya itu. Sudah memakai barang orang seenaknya, dan memakainya tanpa sepengetahuannya.

Arin keluar dari kamar, "Lebih baik pindah rumah saja daripada disini. Jelek banget," ucap seseorang dan Arin menoleh itu adalah istri dari pamannya. Arin menatap bingung dengan alis berkerut. Dan lama-lama ia baru mengerti.

"Sombong banget jadi orang. Udah di biayain pulang kesini. Sombong banget. Toh itu uang dari nenek juga." Gumam Arin membalas dalam hati.

Sikap gengsi dari pamannya serta istri dan anaknya sungguh teramat menyebalkan. Seperti baru saja pulang dari perantauan membawa uang banyak padahal tak sama sekali ada.

Belum cukup sebulan sudah ada rentetan masalah yang terjadi. Pamannya begitu menyombongkan dirinya ketika di perantauan dulu. Arin hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Melihat tingkahnya.

"Aku kira duit sendiri di pake pulang, eh tau-taunya pake duit orangtua juga. Emang selama merantau ngapain?" Tanya Leana.

"Kan kamu sudah tau, om Arman itu sukanya foya-foya. Gaya selangit uang tak ada." Jawab Arin jujur.

Rika hanya bisa mendengar cerita dari keduanya. "Ohh begitu ya," timpal Rika

Arin hanya bisa menghela napas beratnya. "Gimana NBmu apa sudah membaik?" Tanya Leana.

"Makin error. Udah bagus kemarin di pinjemin kamar buat istirahat. Eh ini, malah pake barang orang seenaknya tanpa izin. Gimana tidak marah akunya." Kesal Arin mendengus menatap NBnya.

•••

Beberapa hari Arin sudah malas berada di rumah dan malas makan. Karena masih memikirkan NBnya tersebut. Arin lebih memilih tidur, dan sudah beberapa kali sepupunya itu menyuruhnya makan tapi Arin hanya mengatakan. "Nanti saja,"

Dengan tanpa rasa bersalah sekali pun pamannya masuk ke kamar untuk menengok di tambah lagi dengan kehadiran bocah nakal itu. Arin hanya menatap keduanya datar.

Lihat selengkapnya