Surabaya, 2003.
Pukul tujuh pagi bahkan belum tiba, tetapi halaman Fakultas Kedokteran telah dipenuhi puluhan kemeja putih. Di sana-sini mahasiswa baru berjalan tergesa sambil mendekap map plastik bening berisi berkas, sebagian lagi sibuk merapikan papan nama yang menggantung di dada dengan tali rafia.
Bagi sebagian orang, ospek adalah panggung untuk berteriak dan memberi perintah. Bagi Galih, ospek tahun ini adalah amanah terakhir sebelum ia menanggalkan status mahasiswa preklinik.
Ia memilih duduk di ruang sekretariat, jauh dari keramaian. Di hadapannya menggunung tugas mahasiswa baru yang harus diperiksa sebelum siang. Jemarinya membalik satu lembar ke lembar berikutnya, sesekali memberi coretan merah pada jawaban yang asal-asalan. Pangkal alisnya dipijat perlahan. Skripsi yang belum juga selesai sudah cukup menguras tenaga, sementara tanggung jawab sebagai panitia membuat waktu istirahatnya nyaris tak tersisa.
“Cari lokasi aman biar nggak kedeteksi maba, Lih?”
Galih tak mengangkat kepala. Ia mengenali suara itu tanpa perlu melihat pemiliknya.
“Anak-anak baru mulai nyariin panitia favorit mereka. Katanya, kalau dapat pengarahan dari Mas Galih, cemas mereka menguap.”