Surabaya, 2003.
Masa Ospek sudah berlalu dua minggu lalu. Kehidupan kampus yang sesungguhnya sudah mulai menghajar para mahasiswa baru.
Sudah jam dua siang. Ini waktu rawan: jam lapar, jam ngantuk, dan jam otak bengkak dihantam materi-materi kuliah yang berjejalan memaksa masuk beruntun. Apalagi di jam terakhir tadi mata kuliah anatomi. Sudahlah. Pulang saja. Tapi bagi Tiara, ini justru jam-jam suci untuk cuci mata ke kantin.
“Sejak kapan kantin untuk cuci mata? Bukannya untuk makan?” komentar Ratna datar pada Tiara, yang lalu dibalas lirikan maut.
“Payah,” desisnya kesal.
Jangan dikira mereka sedang bertengkar. Interaksi Tiara dan Ratna memang se-'mesra' itu.
Ratna memilih pulang sendiri. Kantin termasuk area yang harus sering dicoret dalam kamusnya. Dia harus berhemat, karena harga makanan kantin di sini kurang bersahabat dengan kantongnya. Dia memilih masak sendiri di tempat kos.
Nggak mungkin juga ikut ke kantin hanya untuk duduk. Itu mengurangi kuota tempat duduk, bagi mereka yang sungguh-sungguh akan memanfaatkan kantin untuk makan atau minum,
Ratna sedang asyik membayangkan hendak belanja apa, dan menu apa yang akan ia masak setelah ini, saat ia mendengar beberapa suara laki-laki setengah berteriak memanggil namanya.
Belum sempat menoleh sempurna, saat bola basket menghantam bahunya. Ratna terkejut, tapi masih cukup bisa menguasai diri sehingga Sobotta, atlas anatomi yang beratnya hampir setara batu bata yang ia bawa, tidak sampai jatuh.
Pandangannya beredar ke arah lapangan basket di samping jalan yang ia lalui. Ada empat orang teman seangkatan yang sepertinya sedang melakukan 'pendinginan' otak dengan bermain basket.
Ratna takjub, bagaimana bisa mereka main basket di jam seterik ini, dengan baju sopan setelah kuliah anatomi pula. Wajah mereka sampai ada yang semerah matahari senja karena tersengat panas matahari. Sepatu mereka, juga bukan sepatu basket, melainkan sepatu untuk kuliah. Apa nggak sayang kalau rusak? Ah tapi mungkin buat mereka ganti sepatu tiap minggu pun bukan masalah.