DIKEJAR DOSA

Donny Sixx
Chapter #55

Jadilah Tuan Di Atas Ranjang

Hujan turun semakin beringas, seolah langit memuntahkan amarah yang tak tertampung. Namun, air dari langit itu tak mampu memadamkan api yang telah memanggang daging dan tulang di halaman belakang penginapan. Asap putih keabu-abuan terus mengepul, berbaur dengan uap air, menciptakan aroma yang akan membuat perut siapa pun bergejolak: perpaduan antara lemak yang terbakar, dan anyir darah yang mulai membeku. Ratna Mewangi berdiri mematung. Matanya yang biasa setajam sembilu kini bergetar, memandang kengerian yang terhampar di depannya: mayat-mayat dan tumpukan daging hangus. Ia melangkah maju, sendalnya tenggelam dalam lumpur bercampur abu. Di zaman terkutuk ini, nyawa manusia lebih murah dari harga segelak tawa serdadu Belanda di rumah bordil.

Ratna Mewangi menggeram. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia tidak menangis. Air matanya sudah lama mengering, terkubur bersama penderitaan yang ia alami tempo hari. Yang tersisa di dadanya kini hanyalah bara yang menyala lebih panas dari sisa api unggun di depannya. Ia membungkuk, mengambil segenggam abu yang masih hangat, lalu mengoleskannya ke pipi dan keningnya. Sebuah ritual bisu. Sebuah janji yang tak perlu diucapkan kepada langit yang terus bergemuruh. Tunggu aku di neraka, Londo-londo anjing. Aku sendiri yang akan menyalakan apinya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.

Ia memutar tubuhnya, mendekap erat bungkusan berisi pakaian Murni, dan berlari menembus tirai hujan. Malam itu, bayangannya menyatu dengan kegelapan, menjelma menjadi hantu penasaran yang menolak takluk pada kematian. Pintu kamar Nyai Sarah terbuka tanpa ketukan. Angin malam yang dingin berhembus masuk, membawa bau hujan dan aroma sangit daging terbakar. Nyai Sarah masih duduk di kursinya, namun kini sebotol anggur merah cap orangtua menemani cerutunya yang baru. Perempuan itu menoleh, tatapannya tidak menunjukkan keterkejutan. Ia justru tersenyum tipis, melihat Ratna Mewangi berdiri di ambang pintu dalam keadaan basah kuyup, rambutnya menempel di wajah, dan pipinya coreng-moreng oleh abu.

“Kau kembali lebih cepat dari dugaanku. Dan kau membawa bau kematian,” ujar Nyai Sarah santai. Ia menuangkan anggur ke dalam dua gelas kaca kecil. “Duduklah. Kau butuh ini untuk menghangatkan aliran darahmu.”

Ratna tidak duduk. Ia berjalan mendekat, langkahnya berat dan mengancam. Bungkusan pakaian Murni ia lemparkan ke atas meja rias. “Penginapan itu dibumihanguskan. Orang-orang dibakar hidup-hidup,” desis Ratna. Suaranya serak, tajam.

Nyai Sarah berhenti menuang anggur. Ia menatap gelasnya sejenak sebelum menenggaknya habis dalam satu tegukan. “Begitulah cara mereka bekerja. Kau pikir serdadu-serdadu itu hanya berpatroli untuk mencari angin malam? Mereka sedang menyapu bersih tikus-tikus yang dituduh menyembunyikan pemberontak. Dan sepertinya, seseorang telah bernyanyi tentang keberadaanmu di sini.”

“Ucok ....” Ratna Mewangi menyebut nama itu layaknya meludah.

“Bisa jadi. Pria yang sudah mencium bau koin emas dan popor senapan di tengkuknya, akan menjual ibunya sendiri, apalagi hanya seorang mantan kawan.” Nyai Sarah bangkit, berjalan mengitari Ratna Mewangi. Tangannya yang ramping, dihiasi cincin-cincin emas bermata batu giok, menyentuh pundak Ratna Mewangi yang basah.

Ratna Mewangi menepis pelan tangan itu dengan kasar. “Di mana pisauku?”

Pertanyaan itu membuat langkah Nyai Sarah terhenti. Suasana di dalam ruangan mendadak berubah menjadi kaku. Cahaya lampu teplok yang berkedip-kedip memantulkan bayangan mereka berdua di dinding, tampak seperti dua ekor ular betina yang sedang saling menakar bisa.

“Pisau apa yang kau bicarakan, Sayang?” Nyai Sarah berpura-pura dungu, seulas senyum licik kembali menghiasi bibir merahnya.

“Jangan pura-pura. Pisau itu kusimpan di balik kembenku saat aku datang kemari. Kau pikir aku tidak sadar barang itu hilang setelah aku mengganti pakaianku tadi?” Mata Ratna Mewangi menyipit. “Itu pusaka Murni. Benda itu meminta darah setiap kali keluar dari sarungnya. Jangan sampai darahmu yang pertama kali ia cicipi malam ini.”

Nyai Sarah tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah namun mengiris. Ia berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. Mengeluarkan kunci dari saku kemejanya, membuka laci, dan mengeluarkan benda yang dicari-cari Ratna Mewangi. Sebuah pisau keramat, yang dikasih arwah Murni padanya. Begitu pisau itu dikeluarkan, hawa di dalam ruangan tenggelam. Dingin.

“Kau ceroboh, sayang,” kata Nyai Sarah sambil menimang-nimang pisau itu. “Benda ini bergetar saat kau telanjang tadi. Ia mengenali amarahmu, atau mungkin … ia mencium kedatangan bahaya. Aku mengamankannya agar kau tidak bertindak bodoh dengan membantai setiap serdadu yang kau temui di jalan raya.”

“Kembalikan.” Ratna Mewangi menengadahkan tangannya.

“Akan kukembalikan,” Nyai Sarah berjalan mendekat, kali ini ia menempelkan dadanya ke lengan Ratna Mewangi, menatap langsung ke dalam mata perempuan buronan itu. “Tapi kau harus tahu satu hal. Cantik bukanlah malapetaka bagi perempuan di zaman ini. Melainkan senjata paling mematikan yang tidak pernah bisa dilawan oleh kompeni.”

Ratna Mewangi diam, menunggu kelanjutan racauan perempuan di depannya ini. “Besok sore, si Joko akan dieksekusi di kebun kopi. Kau ingin menyelamatkannya? Atau setidaknya, kau ingin memenggal kepala si pengkhianat Ucok itu, bukan?”

Lihat selengkapnya