Diksi Patah Hati

Sutan Azis
Chapter #4

Kalut

Kamis pagi di ruang tengah, sekeluarga berbincang-bincang sembari menikmati sarapannya di meja makan.

"Tam, nanti setelah lulus kamu harus masuk UI, ya," ucap Ayah kepadaku sembari menyantap roti lapisnya.

"Aku mau masuk UI, Yah, tapi dengan jurusanku sendiri!" seruku menegaskan sembari meminum susu dan pergi meninggalkan meja makan.

"Ayahmu belum selesai bicara, Tam," sahut Ibu.

Aku berpamitan dengan Ayah dan Ibu. Adik kecilku, Dio yang berumur 7 tahun kelas 2 SD. Ia hanya asyik menikmati susu putih di dalam mangkok kecil yang bertaburkan sereal coklat.

"Aku pamit, udah siang nanti aku telat sekolahnya," ucapku sembari mencium tangan kedua orang tuaku.

Ayah dan Ibu hanya terdiam dengan wajah penuh kekecewaan.

"Tam, aku tunggu di depan rumahku, ya," kata Gita melalui pesan WhatsApp.

"Iya. Tunggu, ya, Ta. Aku otw," balasku sembari menghidupkan mesin si Abe.

Karena kebetulan rumahku melewati rumah Gita dan kebetulan juga aku berangkat sekolah melewati sekolahnya Gita. Jadi, Gita memintaku menjemputnya untuk berangkat sekolah bareng.

Senin yang akan datang sekolah SMA se-Indonesia serentak mengadakan UN. Setelah lulus aku berniat melanjutkan pendidikanku ke jenjang perkuliahan. Aku sangat suka membaca dan menulis. Oleh karena itu aku ingin memperdalamnya dengan mengambil jurusan sastra.

"Hay, Ta," sapaku dengan senyum kecil.

"Kamu lama, Tam, aku udah nunggu dari tadi juga," ucap Gita dengan wajah cemberut.

"Iya-iya maaf, tadi lumayan macet, Ta. Ya udah ayo naik." Kusodorkan helmku kepada Gita dengan senyum kecilku.

Gita hanya cemberut sembari mengambil helm yang kusodorkan kepadanya lalu menaiki si Abe.

"Ta, setelah lulus kamu kemana?" tanyaku sembari mengendarai si Abe dengan tujuan sekolah Gita terlebih dahulu.

"Emm, gak tau, Tam. Ayah menyuruhku untuk kuliah," jawab Gita dengan sedikit terbata.

"Bagus, dong. Bukannya kamu memang ingin melanjutkan sampai kuliah?" sahutku.

"Iya, tapi Ayah menyuruhku kuliah di Jogja," tukas Gita.

"Kenapa harus di Jogja?" tanyaku seraya mengernyitkan dahi.

"Kami tinggal di Jakarta karena Ayahku sedang ada proyek kerja, Tam. Nah, kalau proyek kerja di sini udah selesai kami harus kembali lagi ke Jogja. Karena tempat tinggal kami memang di Jogja, dan Ibuku sekarang tinggal di Jogja, dia gak ikut ke Jakarta." Mulutku bergeming mendengar perkataan Gita.

"Terus kenapa kamu mau ikut Ayah kamu ke Jakarta?" tanyaku.

"Waktu itu aku mau merasakan sekolah di Jakarta, sampai-sampai aku nangis minta ikut Ayah untuk sekolah di Jakarta. Itu tiga tahun yang lalu, sekarang jadi lucu kalau ingat itu," jawab Gita dengan sedikit tersenyum.

"Lalu proyek kerja Ayah kamu?" tanyaku.

Lihat selengkapnya