Minggu ini kami tidak latihan band seperti biasanya, dikarenakan yang lain ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Lalu aku mencoba mengajak Gita untuk pergi jalan.
"Ta, hari ini ada acara gak? kita kan gak latihan karena si Akbar ada acara. Jalan yu, Ta," kataku melalui pesan WhatsApp.
Aku menunggu balasan Gita sembari membaca buku tentang hubungan antara dua orang laki-laki dan perempuan, yang cintanya sama-sama tak terungkapkan.
Mengapa dua orang itu tak bisa saling mengungkapkan cintanya? Seharusnya jika mereka sama-sama mengetahui mereka saling cinta, lantas kenapa tak diungkapkan?
Bukankah mudah mengungkapkannya jika kita mengetahui bahwa kita saling cinta?
Ya, memang mudah. Tapi bagaimana kalau hanya satu saja yang cinta, bagaimana kalau kita tidak mengetahui bahwa lawan jenis yang kita cinta itu mencintai kita juga.
Begitulah pikirnya si pria tersebut.
Bukankah akan sulit untuk mengungkapkannya?
Lantas bagaimana caranya pria itu bisa mengetahui, lantas bagaimana caranya kita mengetahui orang yang kita cinta mencintai kita juga?
Aku rasa itu menjadi pertanyaan yang hampir setiap orang yang sedang jatuh cinta mencoba mengetahui bahwa orang yang di cintai mencintainya juga.
Termasuk diriku. Bagaimana caranya aku mengungkapkan bahwa aku mencintai Gita. Bagaimana aku mengetahui kalau Gita memiliki rasa yang sama.
Mungkin itu pertanyaan yang tidak seharusnya untuk dijawab, tapi untuk dilakukan. Namun akan mudah kalau hanya mengatakan.
Tiga puluh menit berlalu, tak ada balasan dari Gita. Aku mencoba menelepon dan tidak ada jawaban. Aku khawatir dengannya, tidak mungkin ia pulang ke Jogja secepat ini, UN saja baru akan dilaksanakan besok Senin.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi sendiri, aku pergi ke Bogor untuk menghilangkan penatku. Berkendara ria bersama si Abe, walaupun aku sendiri, tapi kalau bersama si Abe, besi tua itu seperti sahabat bagiku, seperti memiliki nyawa yang setia menemaniku ke mana pun.
Walau terkadang ia seperti seorang sahabat yang sedang merajuk, tak mau membiarkan mesinnya hidup, menyusahkanku di jalan. Yang harus kugosok dulu businya dengan ampelas, atau mengeringkan karbunya yang kebanjiran bensin.
Terkadang itu membuatku kesal. Tapi rasa kesalku pun sirna setelah satu dua pengendara vespa atau segerombolan pengendara vespa yang sedang lewat mau dengan senang hati berhenti untuk membantuku mengatasi si Abe yang sedang merajuk itu.
Mungkin aku berterima kasih juga kepada si Abe, berkat dia merajuk aku jadi mempunyai kenalan baru, mempunyai teman baru dari daerah yang bahkan belum pernah aku kunjungi dan bahkan belum pernah aku tahu.
Dan sampailah aku di depan gerbang Kebun Raya Bogor. Aku masuk melalui gerbang utama yang ada di sebelah Utara. Kebun Botani yang berdiri tahun 1817 ini memiliki empat buah gerbang masuk yang ada di empat penjuru mata angin, Utara, Timur, Selatan dan Barat.
Kebun Raya Bogor ini luasnya mencapai 87 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan, salah satunya yang paling terkenal adalah Amorphopallus Titanum atau yang lebih dikenal dengan bunga bangkai.
Saat aku sedang asyiknya berkeliling kebun, tak sengaja kulihat dari kejauhan, pria yang sepertinya tak asing bagiku. Benar saja saat kudekati ke pinggir danau, ia sedang duduk bersama seorang wanita sembari bercanda ria dan menikmati suasana.
"Kang!" ucapku sembari menepuk pundak pria tersebut. Pria itu pun sontak menoleh ke arahku dan berkata.
"Eh, siapa ya?" tanyanya sembari menunjukan jari telunjuknya ke arahku.
"Bercanda aja ya," ucapku sembari menepis tangannya yang menunjuk ke arahku.