Dilamar CEO Buta

Nurul Adiyanti
Chapter #19

Perjalanan Kehidupan

Perjalanan kehidupan tidak akan pernah semulus jalan tol, selalu ada lubang yang menganga di tengah-tenggah jalan yang membuat orang terkadang mengalami yang namanya tersandung atau bahkan tercebur ke dalam lubang itu dalam proses melewatinya.

.

Belvina dan Anggi baru saja pulang dari kantornya pada hari jumat sore ini, mereka berdua kini sudah berada di apartemen untuk sekadar mengistirahatkan tubuh di ruang tamu apartemen sambil melihat televisi yang menempel di tembok apartemen. Mereka berdua masing-masing membawa mie instan dan juga es sirup warna hijau untuk menemani menonton televisi sambil berbincang-bincang.

“Gi, ternyata jam yang selama ini kucari itu, udah ketemu loh,” Belvina dengan rasa antusiasnya menyampaikan kabar baik itu pada Anggi yang baru saja melahap mienya. Sambil mengunyah, Ia menanggapi omongan Belvina.

“Ketemu di mana emang?” tanya Anggi.

“Di kolong kasur apartemen ini.”

“Kasurmu?”

“Ya iya kasurku, masa kasurmu.”

“Haha, siapa tahu kan.”

“Aish, gak! Aku jadi merasa bersalah nih dengan si Gifer karena telah menuduhnya.”

“Santai, kau kan tidak menuduhnya secara langsung, toh dia juga gak tahu.”

“Iya juga sih.”

“Vin, besok kita ke Bekasi yuk, liburan. Kita belum pernah keliling Jakarta loh selama ini. Aku pengen ke Gedung Juang Bekasi. Di sana ya termasuk Museun juga sih. Lagian besok juga libur kan?” Yang dipanggil seketika menghentikan sesapannya pada mie instan yang dipegangnya.

“Iya, sih. Tapi bukannya di Bekasi hanya ada tempat bermain anak ya?”

“Sembarangan, masih ada tempat wisata bagus di sana. Ada juga pasar dengan jajanan enak juga, Vin.”

“Serius?” Anggi mengangguk.

“Ya serius, masa dua rius."

“Ya kan siapa tahu ada dua rius, tiga rius, dan seterusnya.”

“Mana ada?”

Lihat selengkapnya