Awan mendung seketika menyelimuti kota Jakarta, membawa tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit membasahi bumi hingga aspal di jalan raya begitu basah karena air yang tercipta dari awan. Matahari sama sekali tidak muncul hari ini, membuat suasana sendu bagi ayam-ayam yang tidak dapat berlarian dan berkokok di pagi hari, begitu juga dengan burung-burung yang hanya hinggap untuk berteduh, tidak berkicau dengan bebas sembari terbang seperti biasanya dan menyatu dengan alam.
Tetesan air juga telah membasahi rerumputan dan dedaunan hijau di pinggir jalan yang tak luput dari pandangan mata seorang pria dengan senyum persegi. Ya, Haris kini tengah berangkat ke kantor dengan Gifer di sampingnya. Di dalam mobil, Haris terus menatap keluar jendela yang langsung disuguhi alam semesta yang sangat indah terkena rintik hujan yang tidak begitu deras.
"Hari ini hujan, Gif," kata Haris. Pria yang duduk di sebelahnya menoleh ke arah suara deras yang datang dari arah kanannya.
"Ya, aku mendengar suara air menghantam atap mobil ini," jawab Gifer.
"Semoga pagi yang hujan ini, tidak ada masalah yang lebih besar dari biasanya." Haris mencoba mencairkan suasana.
"Aku juga berharap begitu."
Mobil yang ditumpangi mereka berdua melaju dengan kecepatan sedang, sang sopir diminta Gifer untuk tidak ngebut, apalagi di tengah hujan seperti sekarang karena bisa membahayakan pengguna jalan lainnya. Tidak butuh waktu lama, kini mereka berdua sudah sampai di parkiran sebuah gedung bertingkat bertuliskan nama GF Corporation. Sebuah perusahaan yang memproduksi boneka. Keduanya berjalan beriringan menuju lobi kantor, disambut oleh beberapa staf dan karyawan yang sedang mengerjakan sesuatu. Sapaan seperti 'Selamat pagi, Pak'. Membuat hati Gifer bersorak senang walaupun ia tidak bisa melihat siapa yang menyapanya.
"Gif, apakah nanti ada pertemuan lagi dengan klien Kiano?" Haris bertanya.
"Ada, terus kenapa?" Gifer balik bertanya.
"Aku hanya tidak ingin bertemu Nara," jawab Haris santai.
"Hahaha, kamu nggak suka sama dia?"
"Suka di mana? Aku khawatir banget kalau kamu diganggu lagi seperti kejadian kemarin."
"Hmm, iya juga sih."
"Benar, makanya aku khawatir, semoga nenek lampir itu tidak datang lagi ah, melihat wajahnya saja sudah membuatku muak, apalagi kalau harus bertemu dengannya lagi."
"Aku juga begitu, tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah adiknya Pak Kiano."
"Tapi sekretaris yang sebenarnya bukan Nara, Gif."
"Kau tahu, Ris?"
"Ya tidak."
"Nah?"