Setelah melewati beribu pandangan yang menyimpan banyak tanda tanya, pada akhirnya Feris berdiri teguh dan memandang semua wajah—yang setengahnya memandangnya dengan aneh. Di sela-sela berdebarnya jantung dan keringat yang bercucuran, Feris mulai mengeluarkan lantunan suaranya yang sebelumnya tak pernah diperdengarkan kepada banyak orang. Baginya, pita suara itu seumpama mesin tua yang sudah usang: bervolume kecil, artikulasi berantakan, dan berbagai hal tak pantas disebutkan lainnya.
Pada akhirnya pun Feris meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku harus berani.