“Halo, Feris.” Suara bergemuruh dan seisi ruangan dipenuhi oleh dua kata itu.
Wajah Feris tidak bisa dibohongi. Ia kebingungan bagaimana harus merespons suara riuh itu. Apakah dengan senyumannya—yang mungkin membuat takut semua orang itu—atau dengan muka acuh tak acuh dan seringai tak peduli dengan gemuruh. Di tengah kebingungannya, terkejutlah Feris ketika ada satu suara yang terdengar sangat frontal di tengah ribuan suara yang seperti berebut ruangan.
Ketika suara itu melontarkan pertanyaan yang membuat seisi ruangan hening seketika.
“Ngapa tuh kaki?”
“Cacat ya,” ucap seorang anak dari kejauhan.
“Hahaha, cacat,” balas anak lain di sampingnya.
Setelah kalimat tersebut terlontar, seisi kelas menjadi hening karena kalimat itu membuat semua keributan yang memenuhi ruangan berganti menjadi sunyi yang melingkupi.
“Apa yang terjadi?”
“Apakah itu adalah kalimat ajaib?”