Dinding Dingin Penyesalan

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Kunjungan Malaikat Kecil

Udara di ruang kunjungan penjara terasa berat oleh aroma pembersih lantai murahan dan keringat dingin. Aris duduk terpaku, jemarinya terus memilin ujung seragam oranyenya yang kasar sebagai pengalihan rasa cemas yang menggerogoti dada. Suara gesekan logam gerbang besi yang terbuka membuat jantungnya berdegup kencang, sebuah ritme yang selalu ia benci setiap kali waktu kunjungan tiba.

Sesosok kecil muncul dari balik pintu baja, mengenakan gaun merah muda yang sudah mulai memudar warnanya namun tetap bersih. Maya, putri kecilnya, berlari kecil dengan rambut dikuncir dua yang bergoyang mengikuti langkahnya yang riang. Wajah polos itu berseri-seri seolah tempat suram ini tidak lebih dari sekadar taman bermain biasa yang harus ia kunjungi setiap akhir pekan.

"Ayah! Lihat, aku bawa gambar baru untuk Ayah simpan di sana," seru Maya sambil menempelkan telapak tangan kecilnya pada kaca pembatas yang dingin. Aris memaksakan sebuah senyum, namun matanya justru terasa panas saat melihat betapa kurusnya lengan sang putri. Ada getaran hebat di bahunya, sebuah tanda bahwa benteng pertahanan egonya mulai retak oleh kehadiran malaikat kecil itu.

Aris menempelkan tangannya di sisi lain kaca, berusaha merasakan kehangatan yang mustahil bisa menembus material tebal tersebut. Ia selalu menggunakan kata-kata pendek dan tegas untuk menutupi rasa sesaknya, sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang. "Simpan saja, Maya. Pakai untuk sekolahmu nanti, jangan habiskan kertas untuk tempat sampah seperti ini," bisiknya dengan suara serak yang hampir pecah.

Rasa malu yang merayap di tengkuknya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan sipir mana pun yang pernah ia terima. Melihat kepolosan Maya yang masih menganggapnya sebagai pahlawan adalah siksaan batin yang paling nyata bagi seorang narapidana. Ia ingin sekali berteriak bahwa ayahnya adalah seorang pecundang yang telah membuang masa depan keluarga demi amarah sesaat yang tidak berguna.

Maya memiringkan kepalanya, matanya yang bulat menatap Aris dengan ketulusan yang tanpa syarat, seolah tidak ada dosa yang terlalu besar untuk dimaafkan. "Ibu bilang Ayah sedang belajar jadi orang hebat di sini, jadi aku harus rajin belajar juga," ucapnya polos. Kalimat itu menghujam jantung Aris, membuatnya terpaksa memalingkan wajah agar Maya tidak melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Setiap detik yang berlalu di ruangan itu terasa seperti napas yang dicuri secara paksa dari paru-parunya yang sesak. Aris tahu bahwa setiap kali ia melihat Maya, ia diingatkan pada semua hal yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Namun, di balik rasa malu yang menebal itu, ada secercah harapan kecil yang berbisik bahwa mungkin, hanya mungkin, ia masih punya waktu untuk menebus segalanya sebelum terlambat.

Dinding beton di sekeliling Aris seolah memancarkan hawa dingin yang merayap hingga ke tulang, menciptakan suasana mencekam yang tak pernah bisa ia akrabi. Di depannya, sebuah sekat kaca tebal berdiri angkuh, memisahkan kebebasan dengan penyesalan yang kini menjadi kawan setianya setiap hari. Kaca itu penuh dengan bekas sidik jari dan goresan halus, menjadi saksi bisu dari ribuan kerinduan yang tertahan oleh hukum dan jeruji besi yang dingin.

Di balik kaca yang buram itu, Maya duduk dengan kaki kecilnya yang berayun-ayun, mengenakan pita merah menyala di rambut hitamnya yang dikuncir dua dengan rapi. Senyum gadis kecil itu merekah begitu lebar hingga matanya menyipit, menampilkan deretan gigi susunya yang masih utuh dan putih bersih. Ia melambaikan tangan dengan semangat yang meluap, seolah-olah ruangan kunjungan yang suram ini adalah taman bermain yang paling menyenangkan di dunia.

Aris mencoba membalas lambaian itu, namun tangannya terasa seberat timah saat ia mengangkatnya perlahan untuk menyentuh permukaan kaca yang dingin dan keras. Ia selalu memutar-mutar cincin kawin di jarinya yang kini terasa longgar, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali rasa cemas mulai menggerogoti isi kepalanya. Napasnya terasa pendek dan berat, seakan oksigen di ruangan sempit itu telah habis disedot oleh rasa bersalah yang tak kunjung padam.

Andai saja aku tidak membiarkan amarah itu mengambil alih kemudiku malam itu, mungkin aku masih bisa memeluknya tanpa ada penghalang kaca sialan ini.

"Ayah, kenapa bajunya warna oranye terus? Ayah kerja jadi tukang cat ya di sini?" suara Maya terdengar cempreng dan penuh rasa ingin tahu melalui lubang-lubang kecil di bawah kaca. Pertanyaan polos itu menghujam jantung Aris lebih tajam daripada vonis hakim yang ia terima beberapa bulan lalu di pengadilan. Aris hanya bisa memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar parau, sambil mengusap tenggorokannya yang terasa sangat kering dan tercekik.

"Iya sayang, Ayah sedang bantu-bantu di sini supaya tempatnya jadi lebih bagus nanti kalau Maya datang lagi," jawab Aris dengan suara yang sedikit bergetar. Ia selalu memilih kata-kata yang paling lembut, menghindari kenyataan pahit bahwa dirinya adalah seorang pesakitan yang sedang menebus dosa besar. Aris menundukkan kepala sejenak, menghindari tatapan mata Maya yang terlalu murni untuk melihat kotornya jiwa yang kini mendekam di balik seragam penjara ini.

Tiba-tiba, Maya mengeluarkan sebuah gambar dari tas kecilnya yang bergambar kartun, lalu menempelkannya ke permukaan kaca agar Aris bisa melihatnya dengan lebih jelas. Gambar itu menunjukkan tiga sosok manusia yang bergandengan tangan di bawah matahari kuning yang besar, dengan coretan krayon warna-warni yang memenuhi kertas. Aris mengenali sosok tinggi di tengah adalah dirinya, namun ia menyadari bahwa warna krayon yang digunakan untuk sosoknya mulai memudar.

Kegaduhan di sudut ruang kunjungan sempat mengalihkan perhatian Aris, saat seorang narapidana lain berteriak kasar kepada petugas yang berjaga di pintu kayu besar. Aris secara refleks mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba menutupi pandangan Maya dari kekerasan verbal yang terjadi di sekitar mereka yang penuh tekanan. Ia tidak ingin dunia hitamnya mencemari pikiran putrinya yang masih percaya bahwa ayahnya adalah pahlawan hebat yang sedang menjalankan tugas negara.

Waktu kunjungan hampir habis saat bel berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara percakapan singkat mereka tentang sekolah dan mainan baru. Aris melihat istrinya, yang berdiri di kejauhan, memberikan isyarat bahwa mereka harus segera pergi sebelum petugas menyeret Aris kembali ke sel. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di wajah wanita itu, sebuah beban yang seharusnya dipikul bersama namun kini harus ditanggungnya sendirian.

Maya menempelkan telapak tangan kecilnya ke kaca, menunggu Aris untuk melakukan hal yang sama sebagai ritual perpisahan setiap kali mereka bertemu di tempat terkutuk ini.

Aris menempelkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan tepat di posisi tangan Maya, merasakan dinginnya kaca yang seolah-olah membekukan aliran darahnya. Ia ingin sekali berteriak minta ampun, namun kata-kata itu hanya tertahan di ujung lidah, menjadi rahasia yang ia bawa kembali ke sel.

Saat Maya mulai berbalik dan berjalan menjauh sambil terus melambaikan tangan, Aris menyadari ada sesuatu yang ganjil dengan cara jalan putrinya yang sedikit menyeret kaki kanan. Ia ingin memanggilnya, ingin bertanya apakah dia baik-baik saja, namun pintu besi di belakangnya sudah terbuka lebar dengan suara berdecit yang memilukan. Petugas penjara menepuk pundaknya dengan kasar, memberitahu bahwa dunianya yang sebenarnya kini telah menanti di balik tembok-tembok tinggi berlapis kawat berduri.

Aris berdiri mematung sambil menatap punggung kecil yang perlahan menghilang di balik pintu keluar, menyisakan kekosongan yang luar biasa besar di dalam rongga dadanya. Ia tidak pernah tahu bahwa itu adalah kali terakhir ia akan melihat pita merah itu berkibar dengan ceria di bawah sinar matahari yang hangat. Sebuah berita tragis yang akan datang beberapa hari kemudian akan mengubah seluruh penyesalannya menjadi sebuah lubang hitam yang tak akan pernah bisa tertutup lagi.

"Halo, Ayah! Kapan Ayah pulang?" Suara Maya yang cempreng menembus bisingnya ruang kunjungan melalui gagang telepon hitam yang berminyak. Aris memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya yang kasar terus memilin ujung kerah baju narapidananya yang kusam. Kebiasaan memilin kain itu selalu muncul setiap kali detak jantungnya berpacu melawan rasa malu yang menghimpit dada.

Aris menelan ludah dengan susah payah, mencoba menahan isak tangis yang mendesak kuat di pangkal tenggorokan. "Sabar ya, Sayang. Ayah masih harus menyelesaikan tugas besar di tempat yang sangat jauh ini," jawabnya dengan nada suara yang dipaksakan ceria. Kebohongan itu terasa seperti serpihan kaca yang mengiris lidahnya setiap kali kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya.

Maya menempelkan telapak tangan kecilnya pada kaca pembatas yang dingin dan buram oleh bekas napas. "Tapi Ayah janji kan mau belikan boneka beruang yang bisa bicara kalau sudah gajian nanti?" tanyanya penuh harap. Aris hanya bisa mengangguk pelan, meski dia tahu bahwa upah dari bengkel penjara bahkan tidak cukup untuk membeli sepotong roti yang layak.

Tiba-tiba, seorang petugas penjara berwajah ketus mengetuk meja dengan tongkat kayu, memberi isyarat bahwa waktu kunjungan telah berakhir. Aris tersentak, bahunya menegang saat dia melihat Maya yang mulai mengerucutkan bibir karena kecewa. Setiap detik di sini adalah pengingat bahwa egonya di masa lalu telah merampas masa kecil putri tunggalnya tanpa sisa.

Ketegangan memuncak saat seorang narapidana di bilik sebelah mulai berteriak histeris, memicu keributan kecil yang membuat Maya ketakutan. Aris ingin sekali melompat melewati kaca itu untuk mendekap putrinya, namun belenggu aturan dan jeruji besi menahannya tetap di kursi plastik yang keras. Dia hanya bisa menatap punggung kecil Maya yang perlahan menjauh pergi.

Malamnya, sebuah kabar buruk merayap masuk ke dalam sel melalui bisikan sipir yang berjaga di lorong gelap. Rumah kontrakan mereka terbakar hebat akibat arus pendek, dan tidak ada orang dewasa yang menjaga Maya saat api mulai melahap segalanya. Aris meraung sambil menghantamkan tinjunya ke dinding beton yang dingin, menyadari bahwa ketidakhadirannya kini telah menjadi bencana yang mematikan.

Lututnya lemas saat dia mendengar bahwa Maya terjebak di dalam kamar karena pintu yang terkunci dari luar demi keamanan. Jika saja Aris tidak mendekam di sini karena keserakahannya, dia pasti sudah mendobrak pintu itu dan membawa putrinya keluar dari kobaran api. Kini, dinding penjara yang bisu itu menjadi saksi atas penyesalan yang tidak akan pernah menemukan jalan pulang.

Lihat selengkapnya