Bau apak dari dinding semen yang lembap menusuk indra penciuman Aris saat ia menggosok lantai sel dengan sikat plastik yang bulunya sudah mulai rontok. Setiap gerakan tangannya yang kasar adalah upaya untuk mengikis noda membandel, sekaligus cara untuk membungkam suara-suara bising di kepalanya yang terus menagih janji. Aris sering kali mengetukkan jemarinya ke lantai sebanyak tiga kali sebelum memulai pekerjaan, sebuah ritual kecil untuk menenangkan debar jantungnya yang selalu tidak beraturan setiap kali ia teringat wajah mungil putrinya, Maya.
"Pokoknya, Bapak harus bersih, Bapak harus jadi orang baik," gumam Aris dengan nada rendah yang serak, mengulang kalimat yang sama seperti mantra yang melindunginya dari keputusasaan. Ia tidak lagi menggunakan bahasa jalanan yang kasar seperti saat pertama kali masuk ke sini; kini bicaranya lebih terukur, seolah setiap kata adalah beban yang harus ia pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Keputusannya untuk bergabung dalam program keterampilan di bengkel penjara diambil tanpa ragu, meski rekan-rekan satu selnya sering mengejeknya karena dianggap terlalu tunduk pada aturan sipir.
Keringat bercucuran membasahi seragam birunya yang kusam saat ia mulai merapikan tumpukan buku di sudut perpustakaan kecil blok hunian. Aris merasa bahwa dengan menyusun lembaran-lembaran kertas itu, ia juga sedang menyusun kembali kepingan hidupnya yang sudah hancur berserakan akibat keegoisannya di masa lalu. Ia sering kali berhenti sejenak, menatap jeruji besi yang membatasi pandangannya ke langit luar, lalu kembali bekerja dengan ketekunan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya saat ia masih bebas di luar sana.
Suatu siang, keributan pecah di lapangan tengah ketika dua kelompok narapidana mulai saling dorong dan melontarkan makian tajam yang memicu ketegangan di seluruh area penjara. Aris yang berada di dekat sana hanya terdiam, mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia menolak untuk ikut campur atau memihak siapa pun dalam pertikaian tersebut. Ia lebih memilih untuk menunduk dan berjalan menjauh, sebuah pilihan yang tidak biasa bagi seorang pria yang dulunya dikenal memiliki sumbu pendek dan tangan yang ringan untuk memukul.
Sipir senior bernama Pak Heru memperhatikannya dari kejauhan, merasa heran melihat perubahan drastis pada sikap Aris yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca atau berdoa. "Tumben kamu tidak ikut ramai-ramai di lapangan, Ris? Biasanya kamu yang paling depan kalau ada urusan begitu," tegur Pak Heru sambil menyesap kopi hitamnya. Aris hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan luka dalam namun penuh tekad, lalu menjawab singkat bahwa ia memiliki janji yang jauh lebih penting daripada sekadar membuktikan kejantanan di depan kawan-kawannya.
Harapan Aris membumbung tinggi saat jadwal kunjungan mingguan tiba, membayangkan pelukan hangat dan tawa renyah Maya yang selalu menjadi obat paling mujarab bagi jiwanya yang lara. Ia telah menyiapkan sebuah boneka kayu kecil yang ia rakit sendiri di bengkel, menghaluskan setiap sudutnya agar tidak melukai tangan lembut putrinya saat memainkannya nanti. Namun, saat namanya dipanggil ke ruang kunjungan, ia tidak menemukan sosok gadis kecil itu di balik kaca pembatas, melainkan hanya kursi kosong yang seolah mengejek semua usaha kerasnya selama ini.
Seorang petugas datang dengan wajah pucat dan menyerahkan sebuah surat kabar lokal yang memuat berita tentang kecelakaan tragis di persimpangan jalan menuju penjara pagi itu juga. Tangan Aris gemetar hebat saat membaca baris demi baris berita yang menyebutkan identitas seorang anak kecil yang menjadi korban tabrak lari karena tidak ada orang dewasa yang menjaganya menyeberang. Ia meraung keras, menghantamkan tinjunya ke kaca pembatas hingga retak, menyadari bahwa perubahan dirinya datang terlambat sementara dunia telah merenggut satu-satunya alasan baginya untuk tetap bernapas.
Cahaya matahari sore yang kusam menerobos celah ventilasi sempit di perpustakaan penjara, membawa partikel debu yang menari-nari di udara pengap. Aris duduk di sudut ruangan, membiarkan punggungnya bersandar pada dinding beton yang kasar dan dingin. Aroma kertas tua yang lembap bercampur dengan bau keringat penghuni sel lainnya, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada setiap kali ia mencoba menarik napas dalam-dalam.
Tangannya yang kasar, yang dahulu lebih akrab dengan dinginnya logam senjata, kini gemetar saat meraba sampul buku pertukangan yang mulai mengelupas. Aris membolak-balik halaman demi halaman, mencoba memfokuskan matanya pada diagram sambungan kayu yang rumit. Ia berulang kali mengetukkan jemarinya ke meja kayu yang retak, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali rasa cemas mulai menggerogoti kewarasan di balik jeruji besi.
"Kayu tidak pernah berbohong, tidak seperti manusia," gumamnya dengan suara serak yang hampir menyerupai bisikan angin di lorong gelap. Aris selalu menggunakan diksi yang singkat dan tajam, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah peluru yang harus dihemat. Baginya, mempelajari cara membangun sesuatu dari nol adalah satu-satunya jalan penebusan yang tersisa untuk masa depan putri kecilnya, Maya.
Biasanya, Maya akan datang setiap hari Selasa dengan membawa gambar bunga matahari yang diwarnai berantakan, namun sudah tiga minggu kursi di ruang kunjungan itu tetap kosong. Aris berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin istrinya sedang sibuk, atau mungkin Maya sedang flu ringan yang biasa menyerang saat musim hujan tiba. Namun, setiap kali ia melihat ke arah pintu besi yang tertutup rapat, ulu hatinya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
Ketegangan di blok hunian meningkat drastis sore itu ketika suara sirene ambulans terdengar meraung-raung dari balik tembok tinggi penjara yang angkuh. Aris berdiri seketika, menjatuhkan bukunya hingga menimbulkan suara dentum keras yang bergema di ruangan sunyi itu. Ia mencengkeram jeruji ventilasi setinggi kepala, berusaha mengintip ke arah gerbang luar dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.
Seorang sipir bertubuh tambun berjalan melewati perpustakaan dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak pucat pasi sambil memegang radio panggil yang terus berisik. Aris tidak tahan lagi, ia memukul pintu kayu perpustakaan dengan kepalan tangannya yang keras hingga sendi-sendinya memerah. Ia harus tahu apa yang terjadi di luar sana, karena firasat buruknya mulai berteriak lebih kencang daripada suara sirene yang perlahan menjauh.
"Tuan, katakan padaku siapa yang dibawa ambulans itu!" teriak Aris dengan nada memerintah yang tidak bisa disembunyikan, meski ia tahu posisinya hanyalah seorang pesakitan. Sipir itu berhenti sejenak, menatap Aris dengan tatapan iba yang justru membuat jantung Aris seakan berhenti berdetak. Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya sebuah gelengan kepala pelan yang menyiratkan berita duka yang belum sanggup disampaikan secara lisan.
Keputusan Aris untuk tetap diam di dalam sel saat kerusuhan kecil terjadi bulan lalu kini terasa seperti kesalahan fatal yang menghantuinya tanpa henti. Jika saja ia tidak keras kepala dan memilih untuk bekerja sama dengan pihak berwenang lebih awal, mungkin ia sudah berada di rumah saat musibah itu datang. Penyesalan itu merayap seperti racun, membakar sisa-sisa harapan yang ia bangun di atas lembaran buku pertukangan yang kini tergeletak tak berdaya.
Tiba-tiba, seorang narapidana lain yang baru kembali dari ruang administrasi mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat dunia Aris runtuh dalam sekejap. "Rumahmu terbakar, Ris. Katanya kompor meledak, dan tidak ada orang dewasa di sana untuk mendobrak pintu kamar belakang." Aris terhuyung, tangannya mencari pegangan pada rak buku yang reyot hingga beberapa buku jatuh berserakan di lantai semen yang kotor.
Darahnya mendidih saat ia menyadari bahwa kamar belakang adalah tempat Maya biasa tidur siang sambil menunggu ayahnya pulang membawa mainan baru. Ledakan amarah dan kesedihan yang tak terbendung membuatnya menerjang meja perpustakaan, membalikkan furnitur berat itu hingga hancur berkeping-keping. Para penjaga segera berdatangan, namun Aris tidak peduli lagi dengan tongkat pemukul atau ancaman sel isolasi yang kini menantinya di depan mata.
Kenyataan pahit menghantamnya lebih keras daripada hantaman fisik manapun: ia mendekam di sini karena egonya yang terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan di masa lalu. Sementara ia sibuk belajar memotong kayu di sini, putri kecilnya terjebak dalam kobaran api tanpa ada pahlawan yang datang menyelamatkannya. Aris meraung memanggil nama Maya, suaranya pecah dan hilang ditelan kebisingan penjara yang tidak pernah peduli pada air mata seorang pendosa.
Di tengah kekacauan itu, sipir tadi kembali dan menyodorkan sebuah amplop cokelat yang hangus di bagian pinggirnya, sisa-sisa yang berhasil diselamatkan dari lokasi kejadian. Aris membuka amplop itu dengan tangan gemetar, menemukan foto terakhir Maya yang tersenyum lebar dengan gigi susunya yang tanggal satu di bagian depan. Di balik foto itu, tertulis pesan singkat dengan krayon merah yang kini ternoda oleh jelaga hitam pekat.
Pesan itu berbunyi: "Ayah, cepat pulang ya, Maya sudah siapkan hadiah kecil di bawah bantal untuk ulang tahun Ayah besok pagi." Aris jatuh berlutut, memeluk foto itu erat-erat ke dadanya sambil membiarkan air mata membasahi lantai perpustakaan yang berdebu. Ia menyadari dengan pedih bahwa meskipun ia bisa membangun seribu rumah dengan ilmu pertukannya, ia tidak akan pernah bisa membangun kembali kehidupan yang telah ia hancurkan sendiri.
Gema langkah sepatu bot penjaga yang mendekat terdengar seperti lonceng kematian bagi jiwanya yang telah lama mati sebelum raga ini benar-benar terkubur. Saat borgol besi kembali melingkari pergelangan tangannya, Aris menatap ke luar jendela ventilasi untuk terakhir kalinya, melihat asap hitam membumbung tinggi di cakrawala yang kini berwarna merah darah. Segalanya telah berakhir bahkan sebelum ia sempat mengucapkan kata maaf yang paling tulus kepada malaikat kecil yang kini telah pergi selamanya.
Aris mengayunkan palu beratnya ke arah pasak kayu jati yang keras, menciptakan dentuman yang bergema di seluruh sudut bengkel penjara yang pengap. Keringat bercampur debu gergaji mengalir turun dari pelipisnya, meninggalkan jejak kusam di kulitnya yang mulai menua dan kasar. Setiap hantaman palu itu bukan sekadar kerja paksa, melainkan sebuah ritme penebusan dosa yang terus dia ulangi tanpa henti sejak fajar menyingsing.
Dia tidak memedulikan tatapan sinis atau tawa mengejek dari narapidana lain yang sedang asyik merokok di sudut ruangan sambil membolos kerja. Baginya, suara kayu yang berderit dan aroma tajam pernis adalah pelarian terbaik dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam dan penuh kekerasan. Aris terus memaku, memastikan setiap sambungan kursi kayu yang dia buat benar-benar kokoh, seolah sedang membangun kembali fondasi hidupnya yang telah lama runtuh.
Jempol tangan kirinya yang kapalan tanpa sadar mengusap permukaan kayu yang halus, sebuah gestur kecil yang selalu dia lakukan setiap kali pikirannya mulai melayang jauh ke luar jeruji besi. Dia membayangkan wajah kecil Maya, putrinya yang bermata bulat, yang selalu menempelkan telapak tangan mungilnya ke kaca pembatas ruang kunjungan setiap akhir pekan. Harapan untuk melihat binar bangga di mata anak itu adalah satu-satunya bahan bakar yang tersisa di dalam jiwanya.
"Kerja terus, Ris? Mau jadi mandor atau mau jadi nabi?" sindir seorang pria bertato kalajengking di lehernya sambil meludah ke lantai semen yang kotor. Aris hanya diam, mengencangkan rahangnya hingga urat lehernya menonjol, lalu kembali menghantamkan palu dengan kekuatan dua kali lipat dari sebelumnya. Dia tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong mereka karena setiap detik di bengkel ini adalah upaya untuk mengikis lapisan kejahatan yang pernah melekat erat.
Udara di dalam bengkel semakin terasa berat dan panas, namun Aris justru merasa tenang saat rasa lelah mulai merambat ke seluruh otot lengannya yang gemetar. Dia percaya bahwa setiap serpihan kayu yang jatuh ke lantai adalah potongan masa lalunya yang egois dan keras kepala yang sedang dia buang jauh-jauh. Di antara bau keringat dan serbuk kayu, dia mencoba merangkai kembali harga dirinya yang telah hancur berkeping-keping akibat keputusan bodoh di masa lalu.
Sore itu, langit di balik jendela berjeruji mulai berubah jingga, menandakan waktu kunjungan rutin bagi para narapidana akan segera dimulai dalam hitungan menit. Aris segera membersihkan tangannya yang hitam terkena oli dan debu, mencoba merapikan seragam penjaranya yang lusuh agar terlihat sedikit lebih pantas di depan putrinya. Dia sudah menyiapkan sebuah boneka kayu kecil yang dia ukir diam-diam di sela waktu istirahatnya sebagai hadiah kejutan untuk Maya.
Namun, saat dia berdiri di depan pintu ruang kunjungan, suasana terasa berbeda dari biasanya, ada keheningan yang menyesakkan dan tatapan kasihan dari petugas penjara yang berjaga. Aris merasakan firasat buruk yang merayap di punggungnya, membuat jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang yang tak beraturan. Dia terus meremas boneka kayu di sakunya, berharap bahwa keterlambatan Maya hari ini hanyalah karena masalah sepele di jalanan kota yang macet.
Seorang petugas senior mendekatinya dengan langkah yang berat, wajahnya tampak kaku seolah sedang memikul beban berita yang sangat sulit untuk diucapkan dengan kata-kata. Aris memperhatikan bagaimana bibir petugas itu bergetar sesaat sebelum suara serak keluar, menyampaikan bahwa ada kecelakaan fatal yang melibatkan sebuah angkutan umum di persimpangan dekat gerbang penjara. Dunia di sekitar Aris seakan berhenti berputar, dan suara bising di sekelilingnya mendadak senyap, menyisakan kekosongan yang amat dingin.