Dinding beton sel nomor empat belas terasa semakin menghimpit saat Aris menyandarkan punggungnya yang kaku. Jemari tangannya tidak berhenti memilin ujung baju penjara yang mulai lusuh, sebuah gestur gelisah yang kini menjadi kawan setianya setiap kali bayangan Maya melintas. Suara gemerincing kunci sipir di lorong terdengar seperti lonceng kematian bagi akal sehatnya yang kian menipis.
"Masih belum mau makan, Ris?" tanya sipir itu sambil mengetuk jeruji besi, namun Aris hanya membalasnya dengan tatapan kosong ke arah sudut ruangan yang lembap. Baginya, setiap suapan nasi hanyalah pengingat pahit bahwa ia masih bernapas sementara Maya sudah terkubur di bawah tanah yang dingin. Ia merasa hidupnya telah berhenti berputar tepat di hari berita duka itu sampai ke balik terali besi ini.
Setiap kali ia menutup mata, tawa renyah Maya saat menjenguknya dulu selalu berganti dengan gambaran genangan darah di aspal jalanan. Aris seringkali memukul kepalanya sendiri ke dinding, berharap rasa sakit fisik bisa mengalihkan badai penyesalan yang mengamuk di dadanya. Namun, tembok itu tetap bisu, tidak memberikan pengampunan atas ketidakhadirannya saat putrinya itu sangat membutuhkannya.
Penjara ini bukan lagi sekadar tempat hukuman atas tindak kriminalnya, melainkan peti mati bagi jiwanya yang telah hancur berkeping-keping. Ia tidak lagi peduli pada jadwal kunjungan atau jatah olahraga di lapangan sempit yang penuh sesak itu. Fokusnya kini hanya pada satu titik di langit-langit sel, membayangkan jika saja egonya tidak membuatnya berakhir di balik jeruji ini sejak awal.
Depresi berat itu datang layaknya kabut hitam yang menelan seluruh warna dalam ingatannya tentang masa depan yang pernah ia susun. Aris seringkali berbisik pada kegelapan malam bahwa ia rela menukar seluruh sisa umurnya hanya untuk satu menit memeluk Maya sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Namun, waktu adalah hakim yang paling kejam karena ia tidak pernah memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang terlambat.
Suatu sore, seorang rekan sel mencoba mengajaknya bicara, namun Aris justru meledak dalam amarah yang tak terkendali hingga petugas harus menyeretnya ke sel isolasi. Di sana, dalam kesunyian yang mencekam, ia menyadari bahwa satu-satunya hal yang tersisa darinya hanyalah sisa-sisa kehancuran. Ia bukan lagi seorang ayah, melainkan hanya sebentuk raga yang menunggu waktu untuk benar-benar lenyap dari dunia ini.
Saat ia meraba saku celananya, ia menemukan sobekan foto kecil Maya yang sudah sangat lusuh dan hampir tidak terbaca lagi wajahnya. Air mata Aris jatuh tepat di atas wajah tersenyum putrinya, memudarkan tinta yang menjadi satu-satunya bukti bahwa ia pernah memiliki alasan untuk bahagia. Kini, ia benar-benar tenggelam dalam samudera duka yang tidak memiliki tepian untuknya bersandar kembali.
Aris terus memutar-mutar cincin kawin peraknya yang sudah kusam, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa sesak itu datang. Logam dingin itu bergesekan dengan kulit jarinya yang kasar, menciptakan irama monoton yang seolah menghitung detik-detik kehampaan di dalam sel nomor dua belas. Langit-langit beton yang berjamur menjadi satu-satunya pemandangan yang ia telan mentah-mentah sejak fajar menyingsing hingga cahaya lampu neon mulai berkedip redup.
Piring plastik berisi nasi keras dan sayur layu di sudut ruangan sudah tidak lagi mengeluarkan aroma selain bau basi yang menyengat. Seekor lalat hijau hinggap di tepi piring, berpesta di atas makanan yang diabaikan oleh sang pemiliknya tanpa ada gangguan sedikit pun. Aris tidak peduli pada rasa lapar yang mulai menggerogoti lambungnya, karena rasa sakit di dadanya jauh lebih nyata dan lebih rakus dalam melahap sisa-sisa semangat hidupnya yang masih tertinggal.
"Makan itu, Ris. Jangan sampai kau mati sebelum waktunya di sini," tegur Sipir Bambang sambil mengetukkan tongkat kayunya ke jeruji besi dengan suara dentang yang memekakkan telinga. Aris hanya bergeming, matanya tetap terpaku pada retakan di tembok yang menyerupai peta wilayah yang tak pernah bisa ia kunjungi lagi. Ia tidak memberikan reaksi apa pun, bahkan sekadar kedipan mata yang menandakan bahwa ia masih mendengar suara manusia di sekitarnya.
"Dunia di luar sana masih berputar, tapi kau malah memilih jadi patung bernapas di ruangan sempit ini," lanjut Sipir Bambang dengan nada bicara yang datar namun tajam. Aris menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar berat seolah paru-parunya terisi oleh debu semen yang tebal. Ia tidak ingin berdebat, tidak ingin membela diri, dan yang paling utama, ia tidak ingin diingatkan tentang dunia luar yang telah ia hancurkan sendiri dengan tangannya.
Pikirannya melayang pada kunjungan terakhir putrinya, Maya, yang berdiri di balik kaca pembatas dengan mata sembab dan boneka beruang lusuh di pelukannya. Maya sempat menempelkan telapak tangan kecilnya ke kaca, berharap ayahnya bisa merasakan kehangatan yang sama melalui sekat dingin yang memisahkan mereka berdua. Aris ingat bagaimana ia hanya bisa menatap tangan itu tanpa mampu memberikan janji kapan ia akan pulang untuk membacakan dongeng sebelum tidur lagi.
"Ayah, kenapa Ayah tidak bisa keluar dan mengusir monster di bawah tempat tidurku?" suara Maya yang serak masih terngiang jelas di telinga Aris, menghantam kesadarannya berkali-kali. Pertanyaan sederhana itu adalah belati yang paling tajam, menusuk tepat di pusat egonya yang dulu pernah begitu tinggi hingga meremehkan hukum. Ia ingin menjawab bahwa monster yang sebenarnya justru sedang duduk di balik jeruji ini, mengenakan seragam tahanan berwarna oranye yang sangat mencolok.
Setiap kali Aris mencoba memejamkan mata, bayangan kebakaran di lingkungan rumahnya selalu muncul kembali dengan warna merah yang membara dan jeritan yang melengking. Ia seharusnya ada di sana, seharusnya pintu depan rumahnya tidak terkunci dari luar saat ia sedang sibuk dengan urusan ilegal yang membawanya ke sini. Penyesalan itu mengkristal menjadi beban yang membuat bahunya membungkuk, seolah-olah ia sedang memikul seluruh reruntuhan bangunan yang terbakar itu sendirian.
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat di koridor memecah kesunyian, diikuti oleh suara kunci yang diputar dengan kasar pada gembok selnya yang berat. Aris tidak menoleh, ia sudah terbiasa dengan rutinitas pemeriksaan yang membosankan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda dari getaran suara sepatu bot itu. Seorang petugas administrasi berdiri di samping Sipir Bambang dengan wajah yang sulit dibaca, memegang sebuah amplop cokelat yang terlihat sangat resmi dan kaku.
"Aris, ada berita dari rumah sakit pusat mengenai insiden semalam di sektor pemukimanmu," kata petugas itu dengan ritme bicara yang sengaja diperlambat seolah sedang menimbang kata. Aris merasakan jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia memutuskan untuk mati rasa di dalam penjara. Ia memutar cincinnya lebih cepat, hingga kulit jarinya memerah dan terasa panas akibat gesekan logam yang terus menerus itu.
"Maya... bagaimana dengan Maya?" tanya Aris dengan suara yang parau, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan yang kering kerontang. Petugas itu menarik napas dalam, menghindari kontak mata langsung dengan Aris yang kini mulai menunjukkan kilatan ketakutan di matanya yang tadinya kosong. Keheningan yang mengikuti pertanyaan itu terasa lebih menyiksa daripada cambukan atau makian yang pernah ia terima selama masa tahanannya di tempat ini.
"Dia mencoba menyelamatkan bonekanya yang tertinggal saat api membesar, dan tidak ada orang dewasa yang menjaganya di sana," ujar petugas itu akhirnya dengan suara rendah. Aris merasakan dunianya runtuh untuk kedua kalinya, namun kali ini tidak ada lagi puing yang bisa ia susun kembali menjadi sebuah harapan. Ia menyadari bahwa tembok penjara ini bukan hanya membatasi fisiknya, tapi telah menjadi saksi bisu atas kegagalannya sebagai seorang pelindung bagi darah dagingnya sendiri.
Ia merosot dari dipan semennya, berlutut di lantai yang dingin sambil mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin menghapus memori yang baru saja masuk ke otaknya. Keputusannya untuk masuk ke dunia gelap demi uang cepat kini dibayar dengan harga yang tidak akan pernah bisa ia lunasi seumur hidupnya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah kecil di atas sel terasa seperti ejekan yang menyilaukan, mengingatkannya pada hari-hari cerah yang tidak akan pernah ia lalui bersama putrinya.
Penjara ini benar-benar telah berubah menjadi peti mati yang sempurna, namun Aris masih harus bernapas di dalamnya dengan beban dosa yang kian menghimpit dada. Ia melihat ke arah piring makanannya yang kini sudah benar-benar tertutup oleh koloni lalat, mencerminkan kondisi jiwanya yang telah membusuk di balik dinding beton. Tidak ada lagi air mata yang keluar, hanya ada kekosongan yang membentang luas, menunggu waktu yang entah kapan akan benar-benar mengakhiri penderitaan batinnya yang tanpa akhir ini.
Lantai semen yang lembap memantulkan bayangan samar Aris saat dia menyeret langkah menuju ruang kunjungan yang pengap. Bau pembersih lantai murahan bercampur keringat dingin memenuhi udara, mencekik paru-parunya setiap kali dia mencoba menarik napas panjang. Di balik kaca tebal yang buram, Siska sudah menunggu dengan bahu yang merosot, seolah-olah seluruh beban langit sedang menekan tubuhnya yang kian kurus.
Aris duduk perlahan sembari meremas jemarinya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali rasa cemas mulai menggerogoti nyalinya. Dia mencoba mencari sisa-sisa kehangatan di mata istrinya, namun yang dia temukan hanyalah sepasang mata sembab yang memerah karena terlalu banyak menangis. Siska tidak membawa bungkusan makanan kesukaannya kali ini, melainkan sebuah amplop cokelat kaku yang diletakkan dengan gerakan sangat hati-hati di atas meja kayu yang penuh goresan.
"Jangan pernah cari kami lagi setelah ini, Aris," ucap Siska dengan nada suara yang begitu datar dan dingin hingga sanggup menembus lapisan kulit terdalam suaminya. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak atau isak tangis yang memohon penjelasan, hanya ada kekosongan yang membeku. Kalimat itu meluncur pelan namun pasti, meruntuhkan sisa-sisa harapan yang sempat Aris bangun di dalam sel sempitnya selama berbulan-bulan terakhir.
Tangan Aris bergetar hebat saat dia meraih kertas di dalam amplop tersebut, sebuah dokumen yang secara resmi mengakhiri janji suci yang pernah mereka ucapkan di depan altar. Dia ingin berteriak, ingin memohon agar Siska memikirkan putri kecil mereka yang selalu menanyakan kapan ayahnya pulang untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat oleh bongkahan penyesalan yang terlalu besar untuk dimuntahkan menjadi kata-kata pembelaan.
Siska berdiri tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, membalikkan badan dengan gerakan kaku yang menunjukkan ketetapan hati yang tidak bisa diganggu gugat. Aris hanya bisa menatap punggung yang menjauh itu melalui kaca pembatas, menyadari bahwa jeruji besi ini bukanlah satu-satunya penjara yang mengurungnya sekarang. Dia kini benar-benar sendirian di tengah dunia yang kejam, memeluk secarik kertas yang menjadi bukti nyata bahwa egonya telah menghancurkan segalanya tanpa sisa.