Dinding Dingin Penyesalan

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Langkah yang Terpincang

Lantai semen sel nomor dua belas terasa mendingin saat Aris menggeser punggungnya yang kaku. Ia meraba permukaan dinding yang kasar, sebuah ritual pagi untuk memastikan bahwa sisa-sisa kewarasannya belum menguap ditelan pengapnya udara penjara. Setiap retakan di dinding itu seolah-olah menjadi saksi bisu atas keputusannya yang keras kepala di masa lalu, sebuah ego yang kini membayarnya dengan kesunyian yang mencekik.

Tangannya bergetar hebat saat ia mencoba merapikan kerah seragam oranyunya yang lusuh. "Hanya butuh satu kata 'maaf' saat itu, Ris," bisiknya parau, sebuah pola bicara yang selalu diulanginya setiap kali bayangan putrinya muncul di benak. Ia biasanya akan mengetukkan buku jari ke pelipis sebanyak tiga kali, sebuah gestur kecil untuk mengusir rasa bersalah yang terus-menerus mencoba merobek dadanya dari dalam.

Keputusan Aris untuk berhenti meratapi nasib bukanlah tanda bahwa luka itu telah mengering, melainkan cara terakhirnya untuk tetap hidup. Ia mulai mengambil tanggung jawab di bengkel kayu penjara, membentuk balok-balok kayu keras menjadi mainan kecil yang halus. Ia memilih kayu yang paling sulit dibentuk, sebuah kecenderungan untuk menghukum dirinya sendiri melalui kerja fisik yang melelahkan hingga otot-otot lengannya terasa terbakar hebat.

Di sudut meja kerja yang berdebu, ia mengukir inisial nama putrinya pada sebuah boneka kayu yang tak akan pernah sampai ke tangan pemiliknya. Setiap serpihan kayu yang jatuh ke lantai dianggapnya sebagai butiran doa yang tertunda. Aris tahu bahwa waktu tidak akan pernah memutar balik jarumnya, namun ia menolak untuk mati sebagai pecundang yang hanya bisa menangis di balik jeruji besi yang berkarat.

Suasana bengkel yang bising dengan suara gergaji mesin mendadak hening saat seorang sipir memberikan sepucuk surat lama yang terselip di arsip kantor. Aris membacanya dengan napas tertahan, menemukan fakta bahwa putrinya sebenarnya datang ke gerbang penjara di malam tragis itu untuk menjemputnya. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras dari bogem mentah manapun, membalikkan semua ingatan yang selama ini ia bangun tentang kebencian anaknya.

Aris berdiri tegak di tengah ruangan, meskipun matanya memerah menahan badai emosi yang siap meledak. Ia tidak lagi mengejar pengampunan dari dunia yang sudah memunggunginya, melainkan mencari cara untuk menghormati sisa kenangan yang masih tertinggal. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mulai menyusun rencana untuk mendonasikan seluruh hasil karyanya ke panti asuhan, sebuah penebusan dosa yang mungkin tak akan pernah cukup.

Langkah kakinya kini terdengar lebih mantap saat ia kembali menuju selnya yang gelap di ujung lorong. Ia tahu bahwa dinding-dinding dingin ini akan tetap menjadi rumahnya untuk waktu yang sangat lama. Namun, di dalam saku seragamnya, ia menggenggam erat ukiran kayu terakhir yang ia buat, sebuah simbol kecil bahwa meskipun hidupnya hancur, ia tidak akan membiarkan cahaya putrinya padam dalam kegelapan penjara ini.

Aris mengusap debu kayu yang menempel pada ujung jempolnya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan sebelum memulai pekerjaan. Di dalam bengkel kerja penjara yang pengap ini, hanya suara gesekan logam yang menjadi teman setianya. Ia memegang gagang gergaji kayu itu dengan cengkeraman yang begitu erat, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa di tengah badai penyesalan yang tak kunjung reda.

Setiap tarikan napasnya terasa berat, membawa aroma kayu jati yang tajam dan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Aris tidak sedang mengejar target produksi atau berusaha mengambil hati para sipir yang mengawasi dari balik jeruji besi. Baginya, setiap inci potongan kayu adalah cara untuk membungkam suara-suara di kepalanya yang terus meneriakkan nama putri kecilnya, Maya, dengan nada penuh kekecewaan.

Ia mulai menggerakkan gergaji itu perlahan, menciptakan ritme yang monoton namun menenangkan bagi jiwanya yang koyak. Aris sering bergumam kecil, "Satu garis lagi, satu napas lagi," sebuah pola bicara yang ia gunakan untuk memastikan dirinya tetap berpijak pada realitas saat ini. Ia tidak tahu akan menjadi apa potongan kayu di tangannya, namun ia membiarkan instingnya memandu setiap sayatan dan potongan tanpa rencana yang pasti.

Keputusannya untuk terus bekerja di saat narapidana lain memilih beristirahat bukanlah tanpa alasan yang kuat. Aris memiliki kecenderungan untuk menghukum dirinya sendiri melalui kelelahan fisik, sebuah bias keputusan yang ia ambil agar rasa sakit di ototnya bisa menutupi rasa sakit di hatinya. Baginya, rasa letih adalah obat bius yang paling efektif untuk mencegah ingatan tentang malam tragis itu muncul kembali ke permukaan.

Tiba-tiba, suara pintu besi yang berderit keras memecah keheningan bengkel, membuat Aris tersentak hingga ujung gergajinya meleset. Seorang sipir berdiri di sana dengan wajah datar, memegang sebuah amplop lusuh yang tampak sudah sering berpindah tangan. Aris hanya menatap amplop itu tanpa berani bertanya, sementara tangannya kembali sibuk mengusap debu kayu di jempolnya dengan gerakan yang semakin cepat dan gelisah.

"Ini surat terakhir dari pengacara istrimu, Aris. Dia bilang tidak akan ada lagi kunjungan

dari Maya," ucap sipir itu dengan nada dingin yang menusuk tulang. Aris terdiam, membiarkan gergajinya jatuh berdenting ke lantai semen yang dingin, menciptakan bunyi nyaring yang bergema di seluruh ruangan. Ia tidak membalas ucapan itu, hanya menunduk dalam-dalam seolah sedang mencari jawaban di antara serpihan kayu yang berserakan.

Pikirannya melayang pada bayangan Maya yang biasanya duduk di ruang kunjungan dengan gaun merah mudanya yang cerah. Aris ingat bagaimana putrinya selalu menempelkan telapak tangan kecilnya ke kaca pembatas, mencoba menyentuh tangan ayahnya yang kasar. Kini, sekat itu terasa semakin tebal dan tak tertembus, bukan lagi karena dinding penjara, melainkan karena jurang kesalahan yang telah ia gali sendiri dengan tangannya.

Ia kembali memungut gergajinya, namun kali ini gerakannya tidak lagi lembut dan teratur seperti sebelumnya. Aris mulai memotong kayu itu dengan kasar, seolah-olah ia sedang mencoba membedah rasa bersalah yang bersarang di dalam dadanya sendiri. Keringatnya bercampur dengan serbuk gergaji, menciptakan lapisan kotor yang menyelimuti kulitnya, namun ia sama sekali tidak peduli pada rasa gatal atau perih yang mulai muncul.

Andai saja ego itu tidak membutakan mataku malam itu, mungkin aku masih bisa mendekapnya erat sekarang.

Monolog batin itu muncul sekilas sebelum ia segera menepisnya dengan kembali fokus pada serat-serat kayu di hadapannya. Aris tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan untuk menyesal adalah detik yang terbuang sia-sia, namun ia tidak punya pilihan lain selain terus bergerak. Baginya, berhenti berarti membiarkan kegelapan menelannya bulat-bulat, dan ia belum siap untuk menyerah pada kehampaan yang menanti di sudut selnya.

Udara di bengkel itu semakin terasa menyesakkan seiring matahari yang mulai terbenam di balik tembok tinggi berkaat duri. Aris berhenti sejenak, memandangi hasil kerjanya yang masih berbentuk abstrak dan tidak beraturan, persis seperti hidupnya yang hancur berkeping-keping. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa ketenangan di tengah kekacauan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya tanpa henti.

Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu yang aneh pada tekstur kayu yang sedang dikerjakannya, sebuah pola yang mengingatkannya pada sesuatu yang sangat ia kenal. Ada sebuah ukiran kecil yang tidak sengaja ia buat, sebuah inisial nama yang hampir tidak terlihat namun sangat bermakna baginya. Aris terpaku, menyadari bahwa meski ia mencoba lari, hatinya akan selalu menuntunnya kembali pada penyesalan yang sama, berulang kali.

Ketegangan di ruangan itu memuncak saat Aris tiba-tiba menghantamkan kepalan tangannya ke meja kerja hingga peralatan di sekitarnya bergetar hebat. Ia tidak berteriak, namun matanya yang memerah menunjukkan badai yang sedang berlangsung di balik ketenangannya yang rapuh. Aris menyadari bahwa surat dari sipir tadi bukan sekadar pemberitahuan, melainkan sebuah segel permanen bagi masa depannya yang telah ia hancurkan sendiri.

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju sudut ruangan dan mengambil selembar amplas kasar untuk menghaluskan permukaan kayu yang tajam. Ia menggosoknya dengan tenaga yang berlebihan, seolah ingin menghapus keberadaan dirinya sendiri dari dunia yang sudah tidak lagi menginginkannya. Cahaya lampu neon di atasnya berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji besi lain yang mengurung jiwanya dalam kesunyian yang abadi.

Aris berhenti mengamplas saat ia melihat tetesan darah segar jatuh mengenai kayu putih yang baru saja ia bersihkan dengan susah payah. Tangannya yang lecet tidak lagi terasa sakit, karena rasa perih itu telah kalah oleh kenyataan pahit yang baru saja ia terima sepenuhnya. Ia menatap bercak merah itu dengan tatapan kosong, menyadari bahwa kebenaran yang selama ini ia tutup-tutupi akhirnya terungkap melalui sebuah rahasia yang tersimpan di balik amplop tersebut.

Lantai semen sel nomor dua belas terasa mendingin saat Aris menggosokkan telapak tangannya yang kasar ke permukaan celana seragamnya yang kusam. Di sudut koridor yang remang, ia melihat seorang pemuda kurus bernama Rian duduk memeluk lutut dengan tatapan kosong yang sangat ia kenali. Aris merogoh saku sampingnya, memastikan bungkusan nasi jatah siangnya masih utuh sebelum ia melangkah mendekat dengan bahu yang sedikit membungkuk karena beban penyesalan bertahun-tahun.

Lihat selengkapnya