Dinding Dingin Penyesalan

Bilsyah Ifaq
Chapter #9

Bunga di Atas Pusara

Langkah kaki Aris terasa berat saat menyusuri jalanan setapak pemakaman yang basah oleh sisa hujan semalam. Di tangannya, seikat mawar putih yang mulai layu dicengkeramnya erat hingga durinya menusuk telapak tangan, namun ia tak peduli. Kebiasaan lamanya meremas jemari setiap kali rasa cemas melanda kini kembali muncul, sebuah gerakan repetitif yang menjadi saksi bisu atas kegelisahan jiwanya yang tak pernah benar-benar tenang sejak bebas dari balik jeruji besi.

"Ayah datang lagi, Nak," bisiknya dengan suara serak yang selalu bergetar di ujung kalimat, sebuah pola bicara yang mencerminkan patahnya semangat hidup yang dulu pernah ia miliki. Ia berlutut di depan gundukan tanah yang masih tampak rapi, jemarinya yang kasar meraba nisan marmer dengan penuh kehati-hatian seolah takut akan menyakiti penghuni di bawahnya. Aris selalu memilih untuk datang saat senja hampir habis, saat dunia mulai gelap, persis seperti suasana hatinya yang terus dirundung mendung penyesalan.

Keputusan Aris untuk menghabiskan sisa tabungannya demi membangun panti asuhan kecil di pinggiran kota bukanlah sebuah kedermawanan biasa, melainkan sebuah bias keputusan untuk menebus nyawa yang hilang. Ia menolak tinggal di rumah yang layak dan lebih memilih tidur di dipan kayu sempit dekat ruang belajar anak-anak panti, memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa sendirian saat malam tiba. Baginya, setiap tawa anak-anak di sana adalah obat sekaligus cambuk yang mengingatkannya pada momen tragis yang gagal ia cegah dahulu.

Suatu sore, seorang donatur kaya datang menawarkan bantuan besar dengan syarat nama panti harus diganti menjadi nama perusahaan sang donatur, namun Aris menolaknya mentah-mentah tanpa berpikir dua kali. "Tempat ini punya nyawa, bukan papan iklan," tegasnya dengan nada bicara yang pendek dan tegas, menunjukkan keras kepalanya yang kini ia gunakan untuk tujuan yang benar. Ia tidak butuh kemegahan; ia hanya butuh ruang untuk terus meminta maaf kepada langit melalui pengabdian yang tidak akan pernah berakhir hingga napas terakhirnya diambil.

Namun, sebuah rahasia pahit terungkap saat seorang pengacara tua mendatangi panti dan menyerahkan sebuah surat wasiat yang selama ini tertahan oleh prosedur hukum yang rumit. Surat itu mengungkapkan bahwa putrinya sebenarnya tidak meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan menjenguknya, melainkan sengaja diculik oleh musuh bisnis Aris di masa lalu sebagai bentuk balas dendam. Aris tertegun, menyadari bahwa musuh yang ia anggap sudah selesai ternyata adalah orang yang selama ini mendanai sebagian kecil operasional pantinya secara anonim.

Dunia Aris seakan runtuh untuk kedua kalinya saat ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia telah menerima uang dari tangan yang berlumuran darah dagingnya sendiri. Ia berdiri di tengah aula panti yang sepi, menatap dinding-dinding yang ia cat sendiri dengan penuh kasih, kini terasa seperti penjara baru yang lebih menyesakkan daripada sel jeruji besi manapun. Pengkhianatan ini mengubah segalanya, memaksa Aris untuk memilih antara membakar habis segalanya atau terus hidup dalam lingkaran setan koneksi yang mematikan itu.

Tanpa sepatah kata pun, Aris mengambil korek api dari saku celananya, sebuah benda yang selalu ia bawa namun jarang ia gunakan sejak ia berjanji untuk berhenti merokok demi kesehatan anak-anak. Ia menatap nyala api kecil itu dengan pandangan kosong, sementara bayangan putrinya seolah melambai dari kejauhan di balik kabut senja yang mulai menebal. Malam itu, Aris harus memutuskan apakah penebusan dosanya akan berakhir dengan api yang menghanguskan atau dengan pengakuan yang akan menghancurkan satu-satunya tempat perlindungan bagi anak-anak yatim yang ia cintai.

Aris menyeret langkahnya yang berat di atas aspal retak gang sempit yang dahulu ia hafal luar kepala setiap jengkalnya. Udara pengap sore itu membawa aroma jelaga dan selokan mampet, menusuk hidung dengan cara yang sangat akrab namun menyakitkan. Ia berkali-kali memutar-mutar cincin kawin yang kini terasa longgar di jari manisnya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh kecemasan yang tak kunjung padam.

"Cuma sebentar, cuma mau lihat," gumamnya dengan suara serak, sebuah pola bicara yang terputus-putus seolah setiap kata harus melewati hambatan besar di

tenggorokannya. Ia berhenti di depan sebuah pagar besi berkarat yang cat hijaunya sudah mengelupas hebat hingga menyisakan warna cokelat kusam. Rumah itu tampak asing, dengan tumpukan kardus bekas di teras yang dahulu selalu bersih karena sapu lidi Siska yang rajin bergerak setiap pagi.

Seorang wanita paruh baya dengan daster lusuh keluar dari rumah sebelah, menyipitkan mata saat melihat sosok Aris yang berdiri mematung. Tatapannya yang semula penuh rasa ingin tahu seketika berubah menjadi ketajaman yang menghakimi saat ia mengenali rahang tegas dan bekas luka kecil di pelipis Aris. Wanita itu segera menarik jemuran bajunya dengan terburu-buru, seolah-olah kehadiran Aris adalah wabah yang bisa menular melalui udara sore yang lembap.

Aris membuang muka, lebih memilih menatap ujung sepatunya yang sudah jebol daripada harus beradu pandang dengan penghakiman dari masa lalunya yang kelam. Ia menyadari bahwa di mata orang-orang ini, ia tetaplah monster yang menghilang ke balik jeruji besi, bukan seorang ayah yang sedang mencari sisa-sisa kenangan. Keputusan untuk datang ke sini mungkin adalah kesalahan paling egois yang pernah ia buat sejak menghirup udara bebas dua jam yang lalu.

Langkah kakinya membawa Aris lebih jauh ke dalam labirin pemukiman yang kini terasa lebih sempit dan menyesakkan daripada sel penjara yang baru saja ia tinggalkan. Suara tawa anak-anak yang berlarian mengejar layangan putus terdengar seperti ejekan bagi telinganya yang sudah terbiasa dengan keheningan dan bentakan sipir. Setiap sudut bangunan seolah berteriak memanggil nama putrinya, menyebutkan janji-janji manis yang pernah ia ucapkan namun berakhir dengan pengkhianatan fatal.

"Mana Siska? Di mana mereka pindah?" tanyanya dalam hati dengan nada putus asa yang hampir meledak menjadi teriakan keras di tengah jalan. Ia memaksakan diri untuk terus berjalan, meski lututnya terasa gemetar dan keringat dingin mulai membasahi punggung bajunya yang kasar. Aris tidak berani bertanya pada siapapun, karena ia tahu bahwa setiap jawaban hanya akan menambah beban dosa yang sudah terlalu berat untuk ia pikul sendirian.

Di ujung gang, sebuah warung kopi kecil masih berdiri dengan radio tua yang memutar lagu-lagu melankolis, menambah suasana duka yang menyelimuti hati Aris. Pemilik warung, seorang pria tua yang dulu sering bermain catur dengannya, mendadak berhenti menuang air panas saat melihat bayangan Aris melintas. Tak ada sapaan hangat, hanya keheningan yang mencekam dan suara gemeretak gelas yang diletakkan terlalu keras di atas meja kayu yang sudah lapuk.

Aris mempercepat langkahnya, merasa seperti hantu yang tidak diinginkan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan yang terus berjalan tanpa dirinya. Ia menyadari bahwa ruang dan waktu telah menghapus jejak keberadaannya di lingkungan ini, menyisakan hanya noda hitam yang ingin dilupakan oleh semua orang. Keinginannya untuk memperbaiki keadaan terasa seperti mimpi di siang bolong yang hanya akan berakhir dengan kekecewaan yang jauh lebih dalam.

Tiba-tiba, ia berbelok menuju jalan setapak yang menuju ke arah perbukitan di pinggir kota, tempat di mana pepohonan kamboja berdiri tegak menyambut kedatangannya. Bau tanah basah dan bunga kamboja yang mulai berguguran menggantikan bau busuk kota, memberikan sedikit ketenangan yang semu bagi jiwanya yang koyak. Di sana, di antara ribuan nisan yang membisu, terletak satu-satunya alasan mengapa ia masih memilih untuk tetap bernapas hingga detik ini.

Ia berhenti di depan sebuah gundukan tanah yang masih tampak terawat, dengan nisan marmer kecil yang bertuliskan nama yang selalu ia sebut dalam setiap doanya di penjara. Aris berlutut, membiarkan celananya kotor oleh tanah merah, sementara tangannya gemetar hebat saat menyentuh permukaan nisan yang dingin itu. Air mata yang selama bertahun-tahun ia tahan di balik jeruji besi akhirnya tumpah, membasahi bumi yang kini memeluk erat putri kecilnya.

Penyesalan itu menghantamnya seperti palu godam, mengingatkannya pada malam tragis saat ia seharusnya ada di sana untuk melindungi, bukan mendekam di sel karena egonya sendiri. Ia membayangkan wajah mungil putrinya yang ketakutan, memanggil namanya di saat-saat terakhir, sementara ia hanya bisa menatap dinding beton yang bisu dan dingin. Rasa sakit itu begitu nyata hingga ia meremas dadanya, berharap jantungnya berhenti berdetak agar ia bisa menyusul kesunyian yang abadi.

Namun, sebuah kenyataan pahit tiba-tiba terlintas di benaknya saat ia melihat sebuah foto kecil yang terselip di celah nisan, menunjukkan wajah seorang pria lain yang merangkul Siska. Pria itu bukan dirinya, melainkan sosok asing yang tampak memberikan kebahagiaan yang tidak pernah bisa ia berikan selama hidupnya yang penuh dosa. Aris menyadari bahwa selama ini ia bukan hanya kehilangan waktu, tapi ia telah sepenuhnya digantikan dalam memori orang-orang yang ia cintai.

Dunia seolah berputar lebih lambat saat Aris berdiri kembali, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan seperti darah yang tumpah. Ia mengambil napas panjang, mencoba menelan pahitnya kenyataan bahwa pengampunan mungkin tidak akan pernah datang, bahkan dari dirinya sendiri yang hancur lebur. Dengan satu usapan terakhir pada nisan itu, ia berbalik meninggalkan makam, melangkah menuju kegelapan malam yang mulai menelan sisa-sisa harapan terakhirnya.

Jemari Aris yang kasar dan gemetar menyapu permukaan nisan marmer yang terasa sedingin es. Nama Maya terukir di sana, seolah-olah mengejek setiap detik waktu yang ia sia-siakan di balik jeruji besi. Aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan semalam menusuk penciumannya, membaur dengan wangi mawar merah yang masih segar di atas pusara itu.

Siska pasti baru saja dari sini, bisik batinnya sambil memperhatikan kelopak bunga yang belum layu. Aris meremas ujung kemeja penjaranya yang sudah lusuh, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasat mata. Ia selalu berpikir bahwa dinding beton sel adalah hukuman terberatnya, namun melihat gundukan tanah ini, ia sadar penjara yang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Ayah sudah pulang, Nak," ucapnya dengan suara parau yang pecah di udara yang sunyi. Kata-kata itu terasa hambar dan terlambat, seperti mencoba menyiram api yang sudah meratakan seluruh rumah menjadi abu. Ia memejamkan mata, membayangkan tawa kecil Maya yang dulu sering menyapa setiap kali ia pulang kerja, bukan kesunyian mematikan yang kini mengepungnya di pemakaman luas ini.

Logika Aris terus berputar pada malam tragis itu, saat ia hanya bisa mengerang frustrasi di dalam sel sementara putrinya membutuhkan pertolongan medis segera. Seandainya ia tidak menuruti egonya untuk terlibat dalam transaksi gelap itu, mungkin tangannya yang kini kotor oleh tanah adalah tangan yang mendekap Maya di rumah sakit. Penyesalan itu menghujam jantungnya lebih tajam daripada belati manapun yang pernah ia lihat di jalanan.

Lihat selengkapnya