“Aku tidak mau.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Katrina begitu saja, seperti anak panah yang dilepas tanpa berpikir panjang.
Ruang keluarga kerajaan yang biasanya tenang langsung terasa seperti ruang sidang yang baru saja dilempar bom kecil.
Raja Ridwan, ayah Katrina, memijat pelipisnya.
Ratu Melinda menutup kipas tangannya perlahan.
Sementara Katrina berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada, menatap kedua orang tuanya dengan wajah yang jelas jelas menunjukkan bahwa ia tidak akan berubah pikiran.
“Ulangi lagi,” kata Raja Ridwan pelan.
“Aku. Tidak. Mau,” Katrina mengeja setiap kata dengan sangat jelas.
Di luar jendela besar istana, matahari siang menggantung tinggi di langit Kerajaan Berlin. Taman istana yang penuh bunga mawar terlihat damai berbanding terbalik dengan suasana di dalam ruangan.
Ratu Melinda menghela napas.
“Katrina, sayang…”
“Tidak, Ibu,” potong Katrina cepat. “Aku bahkan belum selesai marah.”
Raja Ridwan mengangkat alis.
“Kau bahkan belum mulai menjelaskan.”
“Karena ini jelas sekali!” kata Katrina. “Aku tidak ingin dijodohkan!”
Ia berjalan mondar mandir di depan sofa seperti seorang pengacara yang sedang menyampaikan pembelaan.
“Apalagi dengan… dengan… manusia es itu!”
“Pangeran Haris,” koreksi ayahnya.
“Ya, manusia es bernama Haris itu!”
Ratu Melinda menahan senyum.
Raja Ridwan tidak.
“Katrina,” katanya dengan suara yang masih berusaha sabar. “Pangeran Haris adalah putra mahkota dari Kerajaan Athena. Dia terhormat, berpendidikan, tampan, dan…”
“Dingin seperti patung marmer di taman istana!” sela Katrina.
Raja Ridwan terdiam sebentar.
“Patung marmer tidak dingin kalau kena matahari.”
“Itu bukan poinnya, Ayah!”
Katrina mengacak rambutnya dengan frustasi.
“Dia bahkan tidak tersenyum!”
“Tidak semua orang harus tersenyum setiap saat,” kata ayahnya.
“Aku tersenyum!”
“Kau juga marah setiap lima menit.”
“Itu beda!”
Ratu Melinda akhirnya berbicara.
“Katrina, duduklah dulu.”
Katrina tidak duduk.
“Katrina.”
Dengan sangat dramatis, Katrina menjatuhkan dirinya ke sofa.
“Aku merasa seperti sedang dijual,” gumamnya.
Raja Ridwan langsung menatapnya.
“Kami tidak menjualmu.”
“Rasanya sama saja.”
“Kau dijodohkan untuk memperkuat hubungan dua kerajaan,” jelas ayahnya.
Katrina menatap langit langit.
“Hebat. Aku jadi alat diplomasi.”
“Banyak pernikahan kerajaan seperti itu,” kata Ratu Melinda lembut.
“Ya, dan banyak juga yang berakhir dengan pasangan saling membenci.”
“Katrina…”
“Serius, Ibu! Aku sudah bertemu Haris kemarin!”
Itu membuat kedua orang tuanya memperhatikan.
Raja Ridwan menyandarkan punggung.
“Baik. Jelaskan.”
Katrina langsung duduk tegak.
“Pertama, dia datang tepat waktu.”
“Itu hal yang baik.”
“Ya, tapi dia datang tepat waktu seperti robot!”
“Robot tidak ada di dunia ini.”
“Ayah tahu maksudku!”
Ratu Melinda menahan tawa kecil.
“Lalu?” tanyanya.
“Lalu dia duduk di kursi taman.”
“Baik.”
“Dan dia hanya… duduk.”
“Ya.”
“Dan diam.”
Raja Ridwan berkedip.
“Berapa lama?”
“Sepuluh menit!”
“Itu tidak terlalu lama.”
“Sepuluh menit tanpa bicara!”
Ratu Melinda menatap Katrina dengan sabar.
“Apakah kau mencoba mengajaknya bicara?”
“Tentu saja!”
“Apa yang kau katakan?”
Katrina mengingat.
“Aku bilang, ‘Cuacanya bagus hari ini.’”
“Lalu?”
“Dia bilang, ‘Ya.’”
“Lalu?”