Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #2

Tiga Jam Bersama Kulkas Berjalan

“Tidak.”

Katrina bahkan belum duduk ketika kata itu sudah keluar dari mulutnya.

Raja Ridwan yang sedang membaca laporan kerajaan langsung menurunkan kertasnya perlahan.

Ratu Melinda yang baru saja menuang teh hampir saja menumpahkan cangkirnya.

“Katrina,” kata ibunya dengan suara hati hati, “Ibu bahkan belum selesai bicara.”

“Aku sudah tahu jawabannya,” kata Katrina sambil menjatuhkan diri ke kursi. “Dan jawabannya tetap tidak.”

Pagi di Kerajaan Berlin biasanya tenang. Cahaya matahari masuk dari jendela besar ruang makan, memantul di meja panjang dari kayu mahoni.

Tapi pagi ini terasa seperti rapat darurat.

“Sayang,” kata Ratu Melinda lembut, “yang Ibu minta hanya satu hal.”

“Kalau itu tentang Pangeran Haris, jawabannya tetap tidak.”

Raja Ridwan menghela napas pelan.

“Dengarkan dulu.”

“Aku sudah mendengarkan kemarin.”

“Kemarin kau lebih banyak berteriak.”

“Itu karena Ayah menjodohkanku dengan manusia es!”

“Pangeran Haris.”

“Kulkas berjalan!”

Ratu Melinda menutup wajahnya sebentar karena menahan tawa.

Raja Ridwan menatap putrinya dengan sabar.

“Katrina, yang kami minta hanya satu.”

“Apa?”

“Kenali dia lebih jauh.”

Katrina menyilangkan tangan.

“Aku sudah mengenalnya.”

“Dari sepuluh menit percakapan?”

“Sepuluh menit yang sangat canggung!”

Raja Ridwan mencondongkan tubuh sedikit.

“Kalau begitu Ayah ingin bertanya.”

“Apa?”

“Apakah kau tahu hobinya?”

Katrina terdiam.

“…”

“Apakah kau tahu makanan favoritnya?”

“…”

“Apakah kau tahu apa yang dia lakukan ketika tidak sedang menjalankan tugas kerajaan?”

Katrina memutar bola matanya.

“Dia mungkin berdiri di sudut ruangan sambil menatap tembok.”

Ratu Melinda tertawa kecil.

“Katrina…”

“Aku serius!”

Raja Ridwan menggeleng pelan.

“Kau bahkan belum mencoba mengenalnya.”

“Kenapa aku harus mencoba?”

“Karena orang tidak selalu seperti yang terlihat dari luar.”

Katrina mendengus kecil.

“Dia terlihat seperti lemari es.”

“Dia juga dikenal sebagai seseorang yang membantu banyak orang.”

Katrina berhenti menggerakkan kakinya.

“Maksud Ayah?”

Raja Ridwan menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Beberapa tahun lalu, di Kerajaan Athena, ada banyak keluarga miskin yang kesulitan hidup.”

“Ya?”

“Haris membantu mereka menemukan usaha kecil.”

Katrina mengerutkan kening.

“Usaha kecil?”

“Ya. Ada yang membuka toko roti. Ada yang menjual kerajinan. Ada yang memulai bisnis kain.”

“Terus?”

“Sekarang banyak dari mereka menjadi pedagang sukses.”

Katrina berkedip.

“Tunggu.”

“Apa?”

“Kulkas berjalan itu?”

“Katrina.”

“Pangeran Haris itu?”

“Ya.”

Katrina terlihat benar benar bingung.

“Bagaimana bisa?”

“Apa maksudmu?”

“Dia terlihat seperti orang yang bahkan tidak suka bicara!”

Ratu Melinda tersenyum lembut.

“Kadang orang yang paling pendiam justru yang paling banyak bekerja.”

Katrina menggigit bibirnya.

Ia tidak menjawab.

Di kepalanya, gambaran Pangeran Haris kemarin muncul lagi.

Wajah datar.

Jawaban satu kata.

Tidak tersenyum.

Sulit dipercaya orang seperti itu membantu banyak orang miskin.

“…Aneh,” gumam Katrina.

Ratu Melinda menepuk bahu putrinya pelan.

“Katrina.”

“Hm?”

“Cobalah mengenalnya beberapa bulan.”

“Beberapa bulan?”

“Supaya kalian tidak canggung ketika bertemu.”

Katrina menatap ibunya.

“Dan kalau aku tetap tidak suka?”

Lihat selengkapnya