Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #3

Pangeran yang Tidak Suka Sakit Kepala

“Kepalaku benar benar mau pecah.”

Pangeran Haris menggumam pelan sambil menjatuhkan dirinya ke tempat tidur besar di kamarnya.

Langit malam di Kerajaan Athena terlihat tenang dari jendela tinggi kamarnya. Angin berhembus pelan, tirai putih bergerak perlahan.

Tapi Haris sama sekali tidak merasa tenang.

Ia memijat pelipisnya dengan dua jari.

Sakit kepala lagi.

Ini sudah yang ketiga minggu ini.

“Hebat sekali,” gumamnya pelan. “Putra mahkota dengan harta berlimpah… tapi tidak bisa menghentikan sakit kepala.”

Ia menutup mata.

Tapi bukannya langsung tidur

kepalanya justru dipenuhi satu hal.

Seorang putri.

Putri yang sangat cerewet.

“Putri Katrina…” gumamnya.

Suara gadis itu teringat jelas di kepalanya.

Aneh.

Suara Katrina sebenarnya lembut.

Manis bahkan.

Seperti madu.

Tapi isi kata katanya

bisa membuat orang sakit kepala lebih cepat.

Ia teringat bagaimana Katrina menggerutu dalam hati, meskipun tidak mengatakannya keras keras.

Ekspresinya sangat jelas.

Keras kepala.

Sangat keras kepala.

Haris membuka mata lagi.

Ia menatap langit langit.

“Keras kepala sekali…”

Namun entah kenapa

itu justru membuatnya tertarik.

Ia tahu dari Raja Ridwan bahwa Katrina memang terkenal keras kepala sejak kecil.

Tapi yang membuat Haris benar benar penasaran adalah hal lain.

“Dia suka membaca.”

Ia mengingat percakapan singkat dengan Raja Ridwan beberapa hari lalu.

Putri Katrina sering menghabiskan waktu di perpustakaan istana.

Sendirian.

Membaca buku berjam jam.

Haris mengerutkan kening.

“Aneh.”

Ia membalikkan badan di tempat tidur.

“Orang yang suka menyendiri biasanya tidak cerewet.”

Tapi Katrina berbeda.

Ia bisa membaca buku berjam jam.

Tapi juga bisa berbicara tanpa henti ketika kesal.

Kontradiksi yang aneh.

Namun

menarik.

Haris menutup mata lagi.

“Putri yang aneh…”

gumamnya pelan.

Beberapa menit kemudian

Pangeran Haris akhirnya tertidur.

Keesokan paginya

Haris membuka mata perlahan.

Cahaya matahari masuk dari jendela kamarnya.

Ia menguap kecil.

Lalu duduk.

Dan langsung memegang kepalanya.

“…Astaga.”

Sakit kepala lagi.

Memang tidak separah kemarin.

Tapi masih terasa.

Seperti ada palu kecil memukul kepalanya pelan pelan.

Haris menghela napas panjang.

Lihat selengkapnya