Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #4

Kereta Kencana yang Terlalu Sepi

Sudut Pandang: Katrina

Aku sudah kesal bahkan sebelum kakiku menyentuh anak tangga kereta kencana.

Serius.

Belum mulai jalan-jalan saja aku sudah ingin pulang.

“Putri Katrina, silakan,” kata Rio dengan sopan sambil membuka pintu kereta.

Rio kelihatan seperti ajudan yang sangat profesional. Tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter, rambut hitamnya rapi disisir ke belakang, dan dia memakai seragam hitam kerajaan Athena dengan kancing emas yang berkilau. Sepatunya juga hitam mengilap seperti baru dipoles.

Aku menarik napas panjang.

Ini cuma jalan-jalan sebentar.

Aku bisa melewati ini.

Aku melangkah keluar dari pintu istana.

Angin pagi langsung menyentuh wajahku. Matahari belum terlalu tinggi, jadi udara masih cukup sejuk.

Dan di depan gerbang istana, kereta kencana milik Pangeran Haris sudah menunggu.

Kereta itu besar dan elegan, berwarna hitam dengan garis emas di pinggirnya. Rodanya besar dan kokoh. Tidak terlalu berlebihan, tapi jelas menunjukkan kalau pemiliknya sangat kaya.

Sayangnya pemiliknya juga sangat dingin.

Rio membantu aku naik.

Begitu aku masuk ke dalam kereta...

aku langsung melihatnya.

Pangeran Haris sudah duduk di sana.

Seperti biasa.

Ekspresinya datar.

Seperti patung yang kebetulan hidup.

Dalam hati aku langsung menggerutu.

Bagus.

Kencan dengan kulkas berjalan.

Hari ini pasti menyenangkan sekali.

Aku duduk di sampingnya.

Interior kereta cukup sederhana. Kursinya empuk dengan lapisan kain biru tua, ada jendela kecil di samping, dan meja kecil di tengah yang biasanya dipakai untuk minum teh saat perjalanan.

Tidak terlalu mewah, tapi nyaman.

Sayangnya suasananya…

sangat canggung.

“Halo, Putri Katrina,” kata Haris.

Suaranya tenang.

Dan datar.

Seperti biasa.

Aku menoleh.

“Pagi, Pangeran Haris.”

Dia tidak tersenyum.

Tentu saja tidak.

Kenapa aku masih berharap?

Aku mencoba tetap terlihat normal.

Padahal dalam hati aku sedang menggerutu.

Serius.

Kenapa aku harus duduk di satu kereta dengan orang yang ekspresinya seperti sedang menghadiri pemakaman?

Kereta mulai bergerak.

Kuda-kuda di depan menariknya perlahan keluar dari halaman istana.

Aku menatap jendela.

Istana Berlin semakin jauh.

Dan anehnya…

dadaku terasa sedikit kosong.

Istana itu selalu terasa seperti rumah.

Tempat paling nyaman.

Tempat di mana Ayah biasanya membaca laporan kerajaan di ruang kerjanya.

Tempat di mana Ibu sering menunggu di ruang makan sambil menanyakan apakah aku sudah makan atau belum.

Tempat di mana aku bisa menghabiskan berjam-jam di perpustakaan.

Aku suka perpustakaan.

Rak buku tinggi.

Bau kertas lama.

Kursi empuk di dekat jendela.

Kadang aku bisa membaca satu buku sampai lupa waktu.

Kadang sampai Ayah harus menyuruh pelayan mencariku karena aku tidak muncul saat makan malam.

Aku tersenyum kecil mengingat itu.

Rumah…

Kadang orang mengira rumah itu cuma bangunan.

Istana besar.

Atau kamar mewah.

Padahal bagiku rumah itu lebih sederhana dari itu.

Rumah adalah tempat di mana orang yang kita sayangi ada.

Tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Tempat di mana seseorang akan tetap menunggu kita pulang.

Aku melirik Haris.

Dan dalam hati aku berkata,

Kalau aku menikah dengannya… apakah tempat itu masih akan terasa seperti rumah?

Atau malah seperti…

kantor pemerintahan yang terlalu sunyi?

Aku menghela napas.

Suasana di kereta terlalu sepi.

Aku tidak tahan suasana canggung.

Jadi aku membuka percakapan.

“Pangeran Haris.”

“Ya.”

Singkat.

Sangat singkat.

“Apakah Anda sering pergi ke kota?”

“Kadang.”

Baik.

Percakapan yang luar biasa.

Aku mencoba lagi.

“Kota Athena pasti ramai ya?”

“Cukup.”

Aku menatap langit-langit kereta.

Hebat.

Kalau percakapan ini adalah permainan, aku pasti kalah telak.

Aku mencoba lagi.

“Apakah Anda suka membaca?”

Lihat selengkapnya