Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #5

Rumah yang Selalu Menungguku

Sudut Pandang: Katrina

Beberapa menit setelah pria itu berlari membawa kabar dari Athena, suasana di sekitar pasar kecil itu langsung berubah.

Aku masih duduk di dalam kereta kencana ketika melihat Pangeran Haris berbicara cepat dengan pria yang tadi menyampaikan berita itu.

Biasanya wajahnya datar seperti patung.

Tapi sekarang… tidak.

Alisnya sedikit berkerut.

Ekspresinya jelas menunjukkan bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi.

Aku menelan ludah.

Entah kenapa suasana mendadak terasa tegang.

Beberapa detik kemudian Haris berpamitan dengan pria tua pemilik toko roti itu. Pria itu masih terlihat sangat berterima kasih, bahkan sampai membungkuk beberapa kali.

Haris hanya mengangguk sopan.

Lalu dia berjalan kembali menuju kereta.

Aku buru-buru duduk dengan posisi normal, seolah-olah aku tidak mengintip dari jendela tadi.

Pintu kereta terbuka.

Haris masuk.

Dan tepat saat dia duduk kembali di kursinya, Rio ikut naik dari sisi depan.

Wajah Rio juga terlihat serius.

“Apa yang terjadi?” tanya Haris singkat.

Rio menarik napas pelan.

“Yang Mulia… ada kejadian di Athena.”

Aku langsung memasang telinga.

Bukan karena aku ingin ikut campur.

Tapi… yah, kereta ini kecil.

Tidak mungkin aku tidak mendengar.

Rio melanjutkan.

“Seorang putri dari kerajaan tamu sedang berada di istana Athena.”

Haris mengangguk kecil.

“Lalu?”

Rio terlihat ragu sebentar sebelum menjelaskan.

“Putri itu… mengalami kecelakaan kecil.”

“Kecelakaan?”

“Dia tersandung di koridor istana.”

Aku mengerutkan kening.

Tersandung?

Rio melanjutkan dengan hati-hati.

“Kepalanya terbentur dinding.”

Haris langsung menegakkan tubuhnya.

“Seberapa parah?”

Rio menjawab dengan nada serius.

“Pelipisnya terluka. Ada darah.”

Aku melihat jelas perubahan di wajah Haris.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya… 

dia benar-benar terlihat kaget.

“Bagaimana bisa dia tersandung?” tanya Haris.

Rio menggeleng.

“Itu yang aneh.”

“Aneh?”

“Para penjaga mengatakan… tidak ada apa pun di lantai.”

Kereta langsung terasa lebih sunyi.

Tidak ada apa pun di lantai?

Lalu bagaimana seseorang bisa tersandung?

Haris terlihat berpikir.

Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya, tapi jelas dia sedang memikirkan sesuatu yang serius.

Beberapa detik kemudian dia berkata,

“Kita harus kembali ke Athena sekarang.”

Rio mengangguk.

“Tentu, Yang Mulia.”

Lalu Haris menoleh kepadaku.

Matanya tenang seperti biasa.

Tapi aku bisa melihat sedikit kekhawatiran di sana.

“Putri Katrina.”

Aku menatapnya.

“Ya?”

“Saya minta maaf.”

Aku berkedip.

“Maaf?”

“Sepertinya perjalanan hari ini benar-benar harus dibatalkan.”

Oh.

Yang itu.

Sebenarnya aku tidak masalah sama sekali.

Malah… aku agak senang.

Tapi tentu saja aku tidak bisa bilang begitu langsung.

“Tidak apa-apa,” kataku sopan.

Haris lalu berkata kepada kusir di luar.

“Tolong antar Putri Katrina kembali ke Istana Berlin terlebih dahulu.”

Aku terdiam.

Dia… memikirkan aku?

Rio terlihat sedikit heran.

“Yang Mulia, bukankah lebih cepat jika langsung menuju Athena?”

Haris menjawab dengan tenang.

“Putri Katrina tidak perlu ikut perjalanan jauh ini.”

Lihat selengkapnya